Skip to content

Pecah

July 29, 2009

Oleh :  Allahuyarham Ustd. Rahmat Abdullah

“Dan Mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dikasihi Tuhanmu ….” (QS. 11: 118-119)
Beberapa alasan pantas diajukan, mengapa tajuk ini diangkat. Pertama, sukar untuk mengatakan sesuatu itu pecah kalau kenyataan sebenarnya mereka tak pernah benar-benar menyatu; satu niat, satu tujuan, satu langkah, satu komandan dan satu sumber komando. Kedua, kalau memang mereka pernah bersatu, apakah benar-benar dengan syarat-syarat diatas? apa artinya persatuan tanpa persaudaraan dan apa artinya jamaah tanpa ketaatan? ketiga, apakah kesatuan, persatuan, bahkan wujud keberadaan mereka benar-benar memberi manfaat seindah janji, slogan dan seremoni yang selalu memberi harapan dan memupus kekecewaan, setidaknya untuk beberapa saat. Maukah mereka yang telah mengklaim diri berukhuwah untuk menjaga batas terendah dan tertinggi (Lower & upper ) -nya. Minimal bila sesuatu menimpa ukhuwah, ia tak pernah merosot melampaui batas salamatus shadr (kesuciaan hati) terhadap saudara dan batas tertingginya al-Itsar (memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri).

Mereka yang menaruh harapan kepada kinerja suatu institusi umat, silahkan menjawab, dapatkah unsur-unsur utama dakwah dipenuhi, yaitu harakah mustamirrah (gerak yang kontinyu), ghayah shahihah (tujuan yang benar), manahij wadhihah, qiyadah mukhlishah dan junud muthi`ah (pimipinan yang ikhlas dan kader yang taat, QS. Yusuf ; 108) ? Bila suatu gerakan, partai, jami`ah atau jama`ah tak mampu memenuhi tuntutan tersebut, maka semua tonggak harapan sebaiknya dibongkar saja, karna itu hanya akan berbuah sesal dan kecewa.

Mengundang grup sirkus, teater atau ludruk lebih cerdas dari pada berharap dapat menyaksikan “permainan cantik” gerombolan pemain watak yang tak pernah jelas, selalu terbalik, balik memerankan komedi pada judul drama dan melakoni drama pada judul komedi, terbahak-bahak pada episode kematian dan menangis pilu pada event perkawinan.

Tauhid, Taqwa, Itsar dan Ukhuwah vs Baghyi

Dari penumbuhan aqidah yang benar lahirlah perilaku yang benar, persaudaraan yang benar dan pengorbanan yang benar. Apa yang membuat masyarakat Anshar rela menjadikan bumi mereka bumi islam dan bertekad melindungi Rasulullah SAW seperti mereka melindungi anak-anak dan isteri mereka.  Padahal mereka belum pernah melihat wajahnya, kecuali sedikit Anshar yang menerima islam di mina, beberapa musim haji menjelang hijrah.

Baghyi (permusuhan&kedengkian) mendominasi sebab-sebab utama perpecahan. Ia dapat bernama iri, hasad, dengki, su-uzzhan, dll. Sejak pembunuhan perdana dilakukan salah satu anak adam terhadap saudaranya, sejarah dengki mewarnai kehidupan anak manusia. Sebelumnya dengan sangat apik syaithan mengemas dengki, dusta dan kelicikan dengan kata-kaya simpatik. baginya memasukkan sebanyak-banyaknya anak manusia kedalam neraka, jauh lebih menggiurkan daripada taubat yang akan mengangkatnya kembali ke dejarat yang paling tinggi.

Rasa iri yang sangat dalam kepada Adam atas kemuliaan yang ia kehendaki, adalah cermin sikap pembangkangan dan anti syukur yang dominan di warisi iblis kepada anak israil. Itu yang membuat mereka tega untuk `melenyapkan` Yusuf adik mereka. Bahwa `keshalihan` menjadi obsesi yang lumrah diantara mereka nampak jelas dalam obsesi romantik yang kelak akan mereka `wujudkan` pasca eksekusi aksi makar. Suatu persepsi keshalihan orang akhir zaman yang membayangkannya dalam simbol-simbol, atribut-atribut atau ekspresi-skrepsi religius dengan menafikkan kenistaan perilaku kesehariaan, kebusukkan praktek bisinis atau kelicikkan langkah politis “Bunuhlah Yusuf atau buang ke (sebuah kawasan) bumi, agar wajah ayah selalu tertuju kepada kalian dan sesudah itu kalian boleh menjadi orang yang shalih.” (QS. Yusuf :9)

Bila saling menghina, buruk sangka, gampang percaya pada provokasi, tajassus (Praktek memata-matai sesama saudara) dan ghibah (menggunjing), menjadi sebab langsung rusaknya hubungan sesama saudara, maka pelanggaran janji (naqdhul mitsaq) kepada Allah, pelanggaran komitmen dan perusakan loyalitas menjadi sebab hancurnya persatuan, maraknya permusuhan dan kebencian dan meluasnya pengkhianatan (QS. Al Maidah:13-14).

Bahan bakar perpecahan

Bahan bakar paling marak yang dieksploitasi para politisi comberan yang memimpikan kesemestaan kaliber, kadang tampil dalam sekumpulan pendukung fanatik yang mengganti perjalanan panjang ibadah menuju sorga, dengan tujuan-tujuan pendek dunia. Mempersepsikan agama dalam mitos ilmu kebal, kanuragan dan asihan serta menukar perangkat petunjuk yang begitu terang dan sempurna, menjadikannya kalimat-kalimat terbaca tanpa kepeduliaan makna, terbunyikan tanpa melibatkan hati dan akal budi, menjadi semacam industri yang tak mengenal krisis dan karenanya harus dilestrikan. Sepanjang masa kelompok ini adalh kayu bakar bagi api unggun dan batu urugan bagi altar kurban (madzbah) besar diatasnya.

Mereka semacam keabadian yang tak terpunahkan, mengalir terus dalam ketidak-tahuan. Mereka adalah amuk pembelaan kepada para pemimpin yang lebih tepat peternak manusia-manusia bodoh atau pawang orang-orang buas dikota dan didesa.  Mereka keaabadian harapan yang menggantung pada figur-figur semu yang tak pernah (mau atau mampu) memenuhi harapan. Karena telah diperkaya dengan sejuta baik sangka dan kekebalan yang luar biasa dari kemungkinan menangkap kelicikan para pemimpin. Selebihnya segelintir penjilat yang berharap kucuran kelebihan yang mengalir dari lelehan liur sang pemimpin sambil menakut-nakuti rakyat dengan berbagai uniform yang melambangkan kekuatan, kekebalan, kekuasaan dan “keshalehan”.  Keatas menjilat, kebawah menginjak. Bila perkubuan telah dimulai, maka perang kesia-siaan tak terelakkan, cepat atau lebih cepat lagi. Mengguratkan luka sejarah yang pedih dan berbau busuk.

Pertarungan paling beradab

Barang siapa yang mampu membayangkan betapa sulitnya proses pengambilan keputusan dalam kasus kasus fitnah yang melanda mulai era khalifah ke-3, akan asangat takjub betapa bijaknya para sahabat dalam menyelesaikan persoalan diantra mereka. Betapa dangkalnya hujjah mereka yang hobi bertikai, berdalih “para sahabatpun saling bertikai”. Mereka lupa, imam Ali bin Abi thalib yang begitu disibukkan oleh kaum khawarij masih memberikan mereka hak-hak. ” kalian berhak 3 hal atas kami : 1. Kami tidak menutup pintu masjid-masjid kami, 2. Kalian berhak atas ghanimah, selama loyalitas kalian masih pada kami, 3. Kami tak akan mengayunkan pedang kepada kalian selama kalian tidak mengayunkannya pada kami”
Ketika Ammar bin Yasir ra yang mendukung khalifah III amirul mukmini Ali bin Abi thalib mendengar seseorang mencaci maki Ummul mukminin Aisyah berseberangan dengan beliau  dalam perang unta (ma`rakah jamal), ia berkata pada orang itu, “Celaka engkau, bukankah engkau tau ia adalah kekasih rasulullah SAW dan ia adalah isterinya didunia dan akhirat. Tetapi Allah ingin menguji kita dengan dia, agar ia tahu apakah kita taat kepadaNya atau kepada Aisyah.”

Ketika para provokator memanas-manasi imam ali dengan pancingan takfir (pengkafiran terhadap sesam muslim) dalam hubungan dengan Muawiyah ra, beliau menjawab ringan : “Mereka adalah ikhwan kami yang berontak kepada kami.” Tak ada jenazah mereka yang dibiarkan tanpa diurus secara islam, kecuali suatu insiden yang lebih merupakan hasil Ijtihad sebelum diketahuinya nash. Tidak ada harta mereka yang dijadikan ghanimah atau isteri dan perempuan mereka dijadikan sahaya, dizaman yang “kuno” jauh dari era moderen, saat penjarahan, pembakaran masjid, pesantren dan madrasah sesama muslim atau fatwa larangan berbelanja kesesama muslim yang lain golongan, madzhab atau ormas telah merebak tanpa penyesalan atau permintaan maaf!

Kembali ke identitas

Jaminan-jaminan kekebalan (dhamanatul baqa`) suatu gerakan, setelah kecemerlangan istinbath (Analogi, konklusi) atas surat Yusuf 108 yang merumuskan lima unsur utama jalan dakwah tersebut, masih menyisakan empat tuntutan.

Pertama, maukah para pendukungnya membawa umat muslim dan non muslim menuju pemahaman islam yang benar, terpadu dan jernih.
Kedua, gerakan ini harus mencantumkan dalam agendanya penegakan syariah dan khilafah serta mengeksiskan agama ini dimuka bumi.
Ketiga, menempuh jalan yang benar dalam rangka penegakkan kedua tujuan diatas. Memulai dengan kekuatan aqidah wal wihdah (keyakinan dan kesatuan) kemudian sa`it wassilah (tangan dan senjata) masing-masing menurut tuntunan dan tuntutan kondisi, merupakan penempuhan cara yang benar. Gerakan yang tidak menjadikan Jihad sebagai bagaian dari agendanya, tak patut menjadi pemimpin.
Keempat, memenuhi seluruh medan dunia islam, tidak terbelah belah dalam pecahan-pecahan teritori yang saling berasingan.

From → Hikmah, Islamic

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: