Skip to content

Menanam yakin, menuai izzah

April 1, 2009

oleh Allahuyarham Ust.Rahmat Abdullah

Suatu hari, di hadapan panglima Rustum. Para penasehat Panglima Rustum telah
membuat gapura pendek. Tujuannya jelas, agar panglima Muslim, Ribi bin Amir
terpaksa menghadap kepada Rustum dengan cara membungkuk. Ini cara lain untuk
membuat kehinaan. Namun, apa yang membuat Ribi bin Amir tidak langsung saja
maju ke hadapan Panglima Rustum dengan membungkukkan kepala? Hanya dalam
hitungan detik, Ribi memutar tubuhnya dan membungkuk. Akibatnya sangat fatal bagi
sang Rustum. Ribi bin Amir telah datang dengan benar-benar membungkuk, namun
mendahulukan belakang tubuhnya.

Sebagai kisah mungkin hal ini masih dapat diperdebatkan, namun ribuan fakta masa
kini dan masa lalu serta masa depan, insya Allah, menunjukkan bahwa hal semacam
itu bukan barang langka di dunia kita. Inilah kasus tuan makan senjata. Jangan cobacoba
memberi hina kepada pemilik izzah, karena Ia akan balik mengembalikan hina
kepada penghinanya, tanpa delik hukum. Yang lahir dalam badai tak takutkan raungan
angin. Yang selalu menggenggam api jangan ancam dengan percikan air. Tanpa izzah
imaniyah, sukar membayangkan seorang Sayid Quthub menggoreskan bait-bait tegar
yang kerap dilantunkan anak-anak muda di hampir seluruh dunia:

Saudaraku, engkau merdeka di balik penjara
Saudaraku, engkau merdeka dihimpit belenggu
Bila kepada Allah engkau berjaga
Makar musuh takkan dapat mencederaimu

Izzah & Jiwa Merdeka

Setelah penat tak menemukan bukti kesalahan yang ditimpakan kepadanya, suatu saat
pihak kejaksaan yang memeriksa Sayid Quthb menyodorkan selembar surat
pengakuan dosa, seraya permohonan maaf yang mereka minta agar ditandatangani
Sayid. Apa jawab Sayid Quthb? “Jari telunjukku yang setiap hari bersaksi akan
keesaan Allah, terlalu hina untuk mau menulis suatu pengakuan yang tak pernah
kulakukan. Bila aku dihukum secara benar, aku rela dengan hukum kebenaran. Bila
vonis dijatuhkan secara bathil, aku terlalu hina untuk meminta belas kasihan dari
(pemerintah) yang bathil.”
Dalam belantara perjuangan Islam, mudah menemukan suatu gerakan yang lincah
melangkah, cepat berkernbang dan inovatif dalam gagasan, namun tak semudah itu
melihat yang bertahan dalam keaslian (ashalah). Demikian halnya kita masih dapat
menemukan gerakan yang konsisten dalam keasliannya namun tidak otomatis lincah
bergerak, cepat berkembang dan inovatif dalam gagasan. Semoga ini tidak ada
hubungannya dengan hal keterasingan (ghurbah) dan orang-orang ghuraba di akhir
zaman. Kita hanya tahu dari penda’wah agung, Rasulullah saw adab-adab dan kiatkiat
da’wah, yang dengannya jaminan-jaminan keberhasilan menjadi lebih nyata. Ia
tidak berkaitan dengan kapan itu akhir zaman, kecuali sedikit isyarat yang lepas dari
angka tahun, bulan atau tanggal.
Keajaiban Sejarah
Ajaib cara Allah mendesain sejarah untuk mereka yang tanggap akan isyaratnya.
Semoga ibunda nabi Musa AS tetap teguh hati melaksanakan perintah Allah untuk
melarung bayinya, seandainya pun ia diberi tahu anak sejarah ini akan menerobos
sejak dini hari ke sarang musuhnya di istananya: Firaun la’natullah ‘alaih. Kisah
keyakinan dan keteguhan ini juga berlaku ketika Ibrahim alaihissalam tak lagi peduli
bagaimana ia meninggalkan bayinya yang baru lahir ke dunia di kesenjaan usianya
yang menginjak tahun ke 85 dan merelakan isterinya yang sangat dikasihinya. Ia
cuma punya satu pilihan, meninggalkan mereka di lembah yang tak bertanaman di sisi
rumah-Nya yang dimuliakan (Qs. Ibrahim: 37). Selebihnya adalah sebuah blue print
kepastian yang tak pernah terlawan. Jalan-jalan kemenangan yang otak picik kita
kerap memandangnya sebagai jalan zigzag dan adegan yang menegangkan. Nabi Nuh
alaihissalam bukan hanya sekadar yakin da‘wahnya yang nampak melawan arus,
bahkan tercermin dari kelakuannya yang membangun bahtera di dataran tinggi. Ia pun
mampu menjawab dengan penuh yakin “Bila kini kalian mengolok-olok kami,
kamipun kelak akan mengolok-olok kalian sebagaimana kalian hari mengolok-olok
kami (Qs. Hud: 38), jauh sebelum segalanya menjadi terang dan banjir masih lama
lagi datang.
Menahem Begin, teroris dan mantan perdana menteri Israel, sengaja datang hari
Jum’at untuk mengikuti acara pemakaman presiden Anwar Sadat. Konon dia rela tidur
di tenda pasukan pengaman presiden, padahal jarak tanah rampasan tempat tinggalnya
dengan pemakaman dapat dijangkau dalam beberapa menit. Pasalnya, orang Yahudi
tidak boleh naik kendaraan pada hari Sabtu. Beberapa negarawan Yahudi berjalan
beberapa mil, waktu pemakaman salah seorang sahabat mereka, karena hari Sabtu itu
mereka tidak boleh naik kendaraan, menyalakan lampu, dan larangan-larang lainnya.
Orang-orang Yahudi itu tidak nyaman bila tidak komitmen dengan ajaran
keyahudiannya. Harusnya semua ini menjadi cermin bagi sejumlah kalangan yang
merasa tak nyaman memenuhi komitmen keislaman dan lebih bangga dengan perdikat
lainnya.
The Man Behind The Gun
Ajaib ummat yang punya kitab sempurna, tak bisa dirusak oleh kebathilan dari arah
manapun datangnya. Mengapa begitu terpuruk citranya oleh para penganutnya.
Kecuali pada momen-momen kekerasan yang dilakukan terhadap ummat, selebihnya
militansi adalah sesuatu yang naif, tabu dan sia-sia. Krisis keyakinan telah melanda,
diawali oleh krisis informasi, krisis ilmu. Yang berilmu juga terkikis kemauan
berjuangnya oleh keberuntunan kegagalan, baik kegagalan pribadi dalam
mengaplikasikan nilai-nilai Islam, maupun kegagalan kolektif oleh kebutaan kolektif
akan panduan, dan keputusaasaan kolektif akan kembalinya izzul Islam wal
Muslimin. Inilah su-uzzhan (buruk sangka) kepada Allah yang telah begitu parah.
Alkisah, suatu hari Khalifah II Umar bin Khatthab ingin melihat pedang seorang
mujahid legendaris yang pedangnya bagaikan baling-baling mencukur habis kepalakepala
musuh. Setelah sejenak memandanginya, ia kembalikan pedang itu.
Bagaimana kesan khali-fah melihat pedangku?, tanya si empunya pedang. “Beliau
tidak nampak kagum,” jawab si pembawa pedang. Suatu hari pemilik pedang itu
mengirim surat kepada Umar. “Demikianlah pedang yang Anda sudah dengar
beritanya, wahai Amirul Muminin, hanya sayang saya tak dapat mengirimkan pedang
itu dengan tangan yang menggerakkannya.”
Hari ini pengaruh kemudahan dan fasilitas pemanjaan telah melenakan banyak
kalangan. Bukan salah teknologi dan iptek, atau salah bunda mengandung, melainkan
ketidakmampuan jiwa untuk memberontak dari belenggu nafsu dan kelemahan diri.
Padahal sejarah tak pernah dibangun kecuali oleh tangan dan hati orang-orang yang
yakin. Bukan soal haq atau bathil, tetapi buah keyakinan itu tumbuh dari akar dan
batang yang sehat dan kuat. Dengan keyakinan yang teguh, langkah yang mantap di
atas bimbingan wahyu, dan semangat sabar berkurban, bangsa Arab yang tak pernah
dikenal dalam peta dunia dan tak dilirik oleh penjajah manapun itu, akhirnya menjadi
guru dunia yang arif, bijak dan adil. Wallahu’alam

From → Hikmah, Islamic

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: