Skip to content

Low Bed Trailer : Keajaiban sedekah

January 21, 2009

PANTAT LOW BED

“Pa., seperti orang lagi kelebihan duit aja… Ngapain bagi-bagi duit sampai
segitu banyak..?!” tanya Ima kepada Zainal suaminya. “Sudahlah Ma, pokoknya
aku mau berbagi rezeki kepada keluarga di kampung kita ini, insya Allah
pasti dibalas berlipat-lipat olehNya” jelas Zainal kepada Ima.
***
Tahun itu Zainal sedang pulang mudik Iedul Fitri ke kampungnya di Maninjau,
Bukit Tinggi. Sebagaimana urang awak di perantauan, kembali ke kampung
setiap kali lebaran Iedul Fitri adalah sebuah tradisi yang jangan sampai
terlewatkan. Mereka yang mencoba peruntungan nasib di perantuan dan sudah
sukses, akan kembali dengan membawa sedikit rezeki mereka setiap kali
lebaran demi berbagi untuk handai taulan di kampung yang kurang bernasib
baik.
Itu juga yang dilakukan Zainal setiap tahun. Namun berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2004, Zainal membawa uang untuk
disedekahkan dengan nilai hampir Rp 40 juta. Padahal di tahun sebelumnya,
kisaran sedekah yang ia berikan antara 5-10 juta saja.
***
Allah Swt tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa untuk membalas kebaikan
setiap hamba-Nya.
***
Usai cuti lebaran Zainal kembali masuk kerja. Para karyawan menyambutnya
seraya bersalaman mengucap selamat Iedul Fitri. Suasana halal bi halal
terasa kental di lingkungan kantor Zainal. Kini ia sudah masuk ke dalam
ruangannya. Ia berdiri di antara kursi dan mejanya. Namun sebelum ia duduk,
hp yang ia bawa terdengar berbunyi.

“Pak Haji Zainal, selamat Iedul Fitri dan mohon maaf lahir batin! Ini Joko
rekanan kerja bapak.” terdengar suara di seberang telpon Zainal. “Oh
sama-sama pak Joko. Mohon maaf lahir batin juga ya!” sahut Zainal. “Begini
pak haji…, saya ingin minta bantuan yang sedikit mendesak. Saya tahu pak
haji Zainal usahanya bukan dibidang beginian. Tapi barangkali pak haji bisa
bantuin saya cari barang…” jelas Joko. “Nyari barang apa, pak Joko?!”
tanya Zainal. “Bapak tahu pantat low-bed khan?!*) perusahaan saya mencari
yang seken/bekas. Kira-kira haji Zainal bisa bantuin nyari gak ya….?”
tanya Joko.
Terus terang Zainal belum pernah punya pengalaman mencari barang seperti
ini. Selama ini bisnis Zainal hanya berkutat seputar dunia forwarding
(pengiriman barang). Namun anehnya Zainal mengiyakan tawaran itu. “Kalau
haji Zainal bisa bantu cariin, saya mohon dalam 3 hari ini ya…!”
Pembicaraan pun terputus setelah tenggat waktu 3 hari yang disepakati mereka
berdua. Usai telpon ditutup, maka kini Zainal berpikir keras hendak mencari
kemana barang yang dimaksud?
***
Sudah puluhan kenalan ia kontak. Beberapa tempat industri sekeliling Jakarta
sudah ia sambangi. Namun semua itu tidak memberikan hasil apa-apa. Padahal
tenggat waktu tersisa 1 hari lagi.
“Subhanallah…!!!” Zainal terhenyak dari duduknya di atas mobil. Seolah ia
baru saja mendapatkan ilham dari Allah atas keberadaan sebuah pantat low-bed
yang pernah ia lihat. “Kita ke Padalarang, pak…!” seru Zainal kepada
supirnya.
Hati Zainal cemas penuh harap. Teringat peristiwa hampir 3 tahun sebelumnya
bahwa ia pernah melihat sebuah pantat low-bed ditaruh di pinggir jalan
Padalarang dengan sebuah papan bertuliskan DIJUAL. Padahal saat itu kondisi
jalan gelap karena malam dan hujan pun mengguyur sepanjang perjalanan. Saat
itu Zainal melihat barang itu tanpa sedikit pun perhatian. Namun kini, ia
berharap kepada Allah, semoga pantat low-bed itu masih teronggok di sana.
***
Allah mengabulkan doa Zainal. Setibanya di sana, ia dapati pantat low-bed
berwarna kuning itu sudah banyak berkarat. Segera saja ia mengontak
pemiliknya. Dan rupanya pemiliknya mau menjual murah barang tersebut. Maka
disepakatilah antara Zainal dan pemilik low-bed itu nilai Rp. 50 juta.

Malam itu juga Zainal menelpon Joko memberitahukan bahwa ia sudah menemukan
barang yang dimaksud. Joko senang mendengar kabar ini, dan ia berjanji esok
pagi akan membawa serta bossnya seorang expatriate bernama Phillip. Maka
keesokan pagi mereka semua datang ke lokasi pantat low-bed untuk check
fisik.
Hati Zainal agak sedikit khawatir sebab biasanya orang asing agak rewel
kalau membeli barang. Apalagi pantat low-bed ini sudah berkarat di
sana-sini.
Namun jauh di luar dugaan Zainal, rupanya Phillip merasa puas dan ia
merekomendasikan agar barang tersebut langsung dibeli.
Maka usai melihat barang tersebut. Masing-masing mereka pulang dengan
kendaraannya.
***
Di atas mobil sepulangnya dari Padalarang, Zainal ditelpon Joko. “Pak Haji,
Alhamdulillah boss saya sudah setuju dengan barang tersebut. Silakan kirim
surat penawaran harganya kepada kami. Di-fax aja biar langsung saya ajukan
ke atasan!” jelas Joko melalui handphone. Zainal pun mengiyakan.

Keesokan paginya, Zainal membuat surat penawaran yang diminta. Dalam surat
tersebut ia tulis semua spesifikasi pantat low bed yang dimaksud. Maka saat
hendak menulis harga ia berhenti sejenak. Zainal agak bingung mencantumkan
berapa harga yang mau ditawarkan. Dalam hal ini ia belum punya pengalaman.
Namun bismilllah, dengan nama Allah ia beranikan diri mencantumkan harga Rp
175 juta.
Usai dibuat, surat penawaran itu pun difax langsung ke nomer kantor Joko.

Belum lama berselang, hape Zainal berdering dan ternyata dari Joko. “Saya
sudah terima surat penawaran dari pak haji. Tapi kayaknya harganya terlalu
mahal tuh!” Joko membuka pembicaraan. “Silakan saja pak Joko kalau mau
tawar..!” sambut Zainal.
“Kalau boleh nawar bisa gak Rp10 juta.?!” tanya Joko. Mendengarnya Zainal
kaget dan langsung membalas, “Yang benar saja, pak Joko. Masa harga Rp 175
juta ditawar cuma 10 juta?!”
“Eh… maksud saya bukan nawar barang itu menjadi 10 juta, tapi saya
bermaksud bisa gak barang tersebut saya tawar harganya menjadi berkurang 10
juta dari angka yang ditawarkan. Jadi harganya 165 juta, bisa gak pak
haji?!”
Subhanallah…., Zainal seolah tidak percaya dengan tanggapan dan penjelasan
Joko. Ia pun langsung bersemangat dan mengatakan, “Gak ada masalah, silakan
saja ambil barang itu dengan harga yang pak Joko bilang!”

Pembicaraan pun disudahi dan setelah mendapatkan surat pembelian barang dari
perusahaan Joko, maka Zainal pun mengirimkan pantat low-bed itu ke gudang
perusahaan Joko. Dalam beberapa hari dana Rp 165 juta sudah terkirim ke
rekening Zainal.
***
Sore itu Zainal pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Ia bernyanyi dan
bersiul mengekspresikan hatinya yang riang. Masuk rumah ia tidak langsung ke
kamar dan berganti pakaian. Ia duduk di ruang tamu sambil terus bernyanyi
dan bersiul. Istrinya memperhatikan gelagat aneh ini. Kemudian Ima sang
istri bertanya kepada Zainal apa yang terjadi. Zainal menukas, “Nih lihat
dalam buku tabungan ada uang masuk gak…?” Begitu melihatnya, Ima langsung
berujar, “Alhamdulillah…., rezeki dari mana nih Pa?” Zainal langsung
berkomentar, “Ini adalah balasan dari Allah saat kita berbagi rezeki kepada
kerabat di kampung kemarin. Kamu lihat sendiri khan berapa besar Allah
langsung membayarnya?!”

Ima pun mengangguk mengiyakan penjelasan suaminya. Keduanya kini sadar bahwa
berbagi di jalan Allah akan mendatangkan balasan berlipat ganda. 40 juta
rupiah yang mereka bagikan, hanya dalam hitungan hari dibalas menjadi Rp 165
juta.
Inilah perniagaan yang tiada pernah merugi. Apakah ada tawaran bisnis yang
lebih baik dari ini? Hendak kemana kalian berpaling?!

Salam,
bobby herwibowo
0817200456
http://www.kaunee.com

*)Kata yang betul adalah Low Bed Trailer, yaitu sebuah jenis truk yang
didesain agak rendah belakangnya memiliki jumlah roda yang banyak untuk
mengangkut alat-alat berat.

From → Hikmah, Islamic

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: