Skip to content

Doa untuk Sekeranjang Tempe

August 26, 2008

Seorang ibu penjual tempe merasa Tuhan tidak mendengar doanya,
karena tempe buatannya masih belum jadi.
Bukan sekali dua kali dia bikin tempe.
Padahal dia harus menjual tempe untuk menafkahi hidupnya.

Di Karangayu, sebuah
desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak
ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia
jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti
mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..”
demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat
subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia
berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas
meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.

Tempe yang akan dia
jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian
berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya
lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang,
untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah
kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa,
terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah,
pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia
angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku.
Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku
ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu
kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan
mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia
tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.

Dadanya gemuruh. Dan
pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu
masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh
kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia
yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu
pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah
tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.
Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,
dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang
mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku
lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.
Bantulah aku, kabulkan doaku…”

Sebelum mengunci
pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.
Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari
daun itu, dan… belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya
memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai
tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.

Dia pun berjalan ke
pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan”
Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas
tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali
dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di
tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.
“Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan
berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia
terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti
ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata
menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe
ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku
menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia
gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia
sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau
membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa
sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian
menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak
akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang,
dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan
dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit,
karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya,
tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi.
Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Di tengah kesedihan
itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah,
seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.
“Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya
sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu
punya?”

Penjual tempe itu
bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab
pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya
Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau
kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi,
jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya.
Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang
sudah jadi tempe…”

“Bagaimana Bu?
Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya
lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan
jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia
buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat,
pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih
sama. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar.
Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus,
dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya,
mencari tempe kok yang belum jadi?”

“Oohh, bukan
begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai
sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat
saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi
semuanya berapa, Bu?”

Pembaca, ini kisah
yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan
“memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling
cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa
diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling
cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.

Sumber: m.yusuf.web.id

From → Hikmah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: