Skip to content

Tentang menunggu

June 23, 2008

Sepertiga malam pertama,
langit tampak lima per tujuh gelapnya,
Bulan terlihat delapan persepuluh bentuknya,
terangnya setingkat delapan persepuluh,
awan pun menutupi langit dengan sembilan persepuluhnya,
dengan tingkat kehitaman sebesar tiga perlima,
suasana dingin hanya terasa setengah dari lima per delapan bagian kulitku,
masalahku terselesaikan tiga per tujuh jumlahnya,
keletihan malam tersisa lima pertujuh,
rasa ngantuk terasa dua pertiga dari dua mataku,
tapi…..rasa rindu hanya berkurang satu persepuluh saja,
berarti masih tersisa sembilan persepuluh,
berarti bisa muncul rasa gelisah sebesar tujuhpuluh lima perseratus,
yang seringkali hadir di seperempat tidurku,
mengganggu sepertiga shalat-shalatku,
duh…..mengertilah,
rasa ini tidak boleh dibiarkan,
karena dia seperti hama yang siap merusak ladang ikhlas sang jiwa,
mencemarkan sang bunga yang tumbuh dari ketulusan hati,
mengotori sebuah gaharu dengan tinta buruk dengan seratus dua laknat para petani,
petani yang senantiasa bernafas dengan mata,
mencium dengan hati,
meraba dengan kelembutan ujung2 jari sang jiwa,
hmmmm……sudah sadarkah engkau,
manusia pendosa,
bangunlah dari sejuta kemalasan tubuh,
segeralah beristighfar,
mohon ampunlah kepada Yang Maha Pemaaf,
karena seringkali kau mencoba durhaka dengan seratus delapan puluh ribu duaratus lima kejahatan yang ditutupi dengan tiga rarus tujuh puluh dua bahasa kebaikan,
cobalah untuk melihat kebelakang,
yang seringkali tertutup dengan alang-alang coklat tua,
yang saling merapat, sehingga cahaya matahari pagi penyejuk pun terhalangi olehnya,
bakarlah alang2 coklat tua dengan api suci yang bewarna putih,
yang dengan putihnya seakan-akan orang biasa dan binatang pun menganggapnya salju putih yang dingin,
bakar…bakar…bakar lagi hingga akar2nya,
karena asap ungu kehitamannya akan membuat tulisan,
“Aku sudah binasa selamanya”,
lalu bersihkan, dan cucilah dengan air bening dari mata air sejuta gunung hijau tinggi yang atasnya terdapat salju yang abadi,
engkau akan melihat lima janji…..
renungkanlah,
bernafaslah,
resapi,
ilmui,
dan ambil keputusan tegar,
lebih tegar daripada karang di sebuah pulau laut kejam dan besar ombaknya,
kini semuanya tersimpan dihati,
jadi terserahlah…
karena kamu juga yang akan mengalaminya.

From → Poetries

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: