Skip to content

Doa

October 22, 2007

Sesungguhnya aku, seorang tua yang lemah, tidak mampu memegang pena
dan menyandang senjata dengan tanganku yang sudah mati (lumpuh). Aku
bukan seorang penceramah yang lantang yang mampu menggemparkan semua
tempat dengan suaraku (yang perlahan ini) Aku tidak mampu untuk
kemana-mana tempat untuk memenuhi hajatku kecuali jika mereka
menggerakkan (kursi roda)-ku Aku, yang sudah beruban putih dan berada
di penghujung usia. Aku, yang diserang pelbagai penyakit dan ditimpa
bermacam-macam penderitaan Adakah segala macam penyakit dan kecacatan
yang tertimpa ke atasku turut menimpa bangsa Arab hingga menjadikan
mereka begitu lemah. Adakah kalian semua begitu, wahai Arab, kalian
diam membisu dan lemah, ataukah kalian semua telah mati binasa Adakah
hati kalian tidak bergelora melihat kekejaman terhadap kami sehingga
tiada satu kaumpun bangkit menyatakan kemarahan karena Allah. Tiada
satu kaumpun (di kalangan kalian) yang bangkit menentang musuh-musuh
Allah yang telah mengobarkan perang antarbangsa ke atas kami dan
menukarkan kami daripada golongan mulia yang dianiaya dan dizhalimi
kepada pembunuh dan pembantai yang ganas. (Tidak adakah yang mau
bangkit menentang musuh-musuh) yang telah berjanji setia untuk
menghancurkan dan menghukum kami Tidak malukah ummat ini terhadap
dirinya yang dihina sedangkan padanya ada kemuliaan. Tidak malukah
negara-negara ummat ini membiarkan penjajah Zionis dan sekutu
antarabangsanya tanpa memandang kami dengan pandangan yang mampu
mengesat air mata kami dan meringankan beban kami Adakah
kekuatan-kekuatan ummat ini, pasukan tentaranya, partai-partainya,
badan-badannya, dan tokoh-tokohnya tidak mau marah karena Allah dengan
kemarahan sebenarnya lalu mereka keluar beramai-ramai sambil
menyerukan, “Ya Allah, perkuatkanlah saudara-saudara kami yang sedang
dipatah-patahkan, kasihanilah saudara-saudara kami yang lemah ditindas
dan bantulah hamba-hambamu yang beriman!” Adakah kalian tidak memiliki
kekuatan berdoa untuk kami? Seketika nanti kalian akan mendengar
mengenai peperangan besar ke atas kami dan ketika itu kami akan terus
berdiri dengan tertulis di dahi kami bahwa kami akan mati berdiri dan
berdepan dengan musuh, bukan mati membelakang (dalam keadaan melarikan
lari) dan akan mati bersama-sama kami, anak-anak kami, wanita-wanita,
orang-orang tua, dan pemuda-pemuda Kami jadikan di kalangan mereka
sebagai kayu bakar buat ummat yang diam dalam kebodohan! Janganlah
kalian menanti hingga kami menyerah atau mengangkat bendera putih
kerana kami telah belajar bahwa kami tetap akan mati walaupun kami
berbuat demikian (menyerah). Biarkan kami mati dalam kemuliaan sebagai
mujahid Jika kalian mau, marilah bersama-sama kami sedaya mungkin.
Tugas membela kami terpikul di bahu kalian. Kalian juga sepatutnya
menyaksikan kematian kami dan menghulurkan simpati. Sesungguhnya Allah
akan menghukum siapa saja yang lalai menunaikan kewajiban yang
diamanahkan Dan kami berharap kepada kalian supaya jangan menjadi musuh
yang menambah penderitaan kami. Demi Allah, jangan menjadi musuh kepada
kami wahai pemimpin-pemimpin ummat ini, wahai bangsa ummat ini”.
Tentang nasib rakyat Palestina, Syeikh Ahmad Yasin memberi 2
alternatif: menyerah atau terus melawan. Kalau rakyat Palestina mau
hidup di bawah penjajahan Israel, maka pilihannya menyerah. Bila
mengharap kemerdekaan dan kehidupan mulia di kemudian hari, pilihannya
hanya melawan. “Perlawanan ini tidak terbatas. Karena musuh kita
(Israel) menyerang dengan segala bentuk senjata tank, pesawat tempur,
helikopter, roket, dan lainnya. Maka sekarang mengapa kita harus tunduk
untuk membatasi cara kita melawan? Kita yang seharusnya membatasi
senjata yang akan kita gunakan tergantung kemampuan dan kondisi riil di
lapangan. Mereka membunuh di titik kelemahan kita, dan kita merespons
pada titik kelemahan mereka. Mengapa mereka hidup aman di Tel Aviv,
Haifa, Ramlah dan lain-lainnya, sementara kita terus diserang. Maka
tidak ada rumusan aman bagi mereka selama kita tidak hidup aman dan
manusiawi”. Sebuah wawancara di Majalah Al-Mujtama’ Kuwait dalam
peringatan 15 tahun Hamas memperlihatkan bagaimana sikap Syeikh Ahmad
Yasin terhadap upaya perdamaian yang selama ini sering
digembar-gemborkan banyak pihak. Hal itu hanya bentuk kekalahan “banci”
yang justru akan melenyapkan hak-hak fundamental bangsa Palestina.
“Kita harus mengetahui bahwa operasi-operasi jihad dan perlawanan telah
memberikan bangsa Palesina haknya untuk eksis dan membela diri, dimana
Israel tidak mengakui eksistensi kita sebelumnya. Dari Oslo, mereka
(Israel) mengakui otonomi pasca Intifadhah I, dan sekarang mengakui
negara Palsetina. Bahkan partai Likud yang dulu tidak mengakui
Palestina sama sekali, sekarang mengakui negara Palestina, walau tanpa
bentuk. Kita (bangsa Palestina) maju jauh (dari kondisi dulu) dan musuh
mundur, karena operasi-operasi jihad dan resistensi. Mereka
menginginkan kita menghentikan operasi-operasi ini untuk memecah tekad
bangsa untuk hidup merdeka. Negeri kita dijajah dan ingin kita
bebaskan. Kita tidak menghabisi bangsa Yahudi atau orang selain kita,
tetapi yang kita inginkan adalah negara Islam di atas negeri dan hak
kita. Banyak sudah tokoh-tokoh Hamas yang syahid, Imad Aqil, Yahya
Ayyash, Muhyiddin Syarif, bahkan anak-anak di bawah umur yang terjun ke
medan perang dengan gagah berani. Di mata Syeikh Ahmad Yasin,
kesyahidan mereka tidak membuat spirit juang bangsa Palestina kendor
dan buyar. Ketika Ayyash syahid, arsitek-arsitek lain tumbuh bagai
jamur. Gugurnya pejuang tidak membuat jihad ini berhenti. Ketika satu
pejuang syahid, seribu pejuang baru muncul, dan ini fadhillah buat
ummat ini hingga perjuangan terus berlanjut hingga hari kiamat.
Kemenangan terwujud atau mati syahid. Generasi pejuang sekarang ini
antri untuk mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan jihad, walau
perjalanan masih panjang. Memang jalan penuh dengan bahaya dan kematian
syahid adalah jalan menuju kemenangan. Hamas siap untuk mempersembahkan
setiap hari bom syahid sampai 20 tahun ke depan. Kini Palestina
menunggu generasi masa depan yaitu jail al-tahrir (generasi pembebas).
Tidak ada kekuatan dunia yang dapat mematahkan perlawanan Intifadhah.
Tidak Amerika, tidak Israel, dan tidak ada kekuatan dunia yang dapat
memadamkan perlawanan. Penjajah akan lenyap, insya Allah, dalam rentang
waktu dua atau tiga dekade mendatang.
Syaikh Assyahid Ahmad yaasin

Powered by ScribeFire.

From → Poetries

2 Comments
  1. madureso permalink

    Wah mas fadhil…doanya dari hati dong…doainaku juga loh..

  2. vade permalink

    Semoga Mas tarom diberikan kekuatan dan kemudahan oleh Allah SWT di setiap ujian yg diterima….amiiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: