Archive Page 2

29
Jul
09

Pecah

Oleh :  Allahuyarham Ustd. Rahmat Abdullah

“Dan Mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dikasihi Tuhanmu ….” (QS. 11: 118-119)
Beberapa alasan pantas diajukan, mengapa tajuk ini diangkat. Pertama, sukar untuk mengatakan sesuatu itu pecah kalau kenyataan sebenarnya mereka tak pernah benar-benar menyatu; satu niat, satu tujuan, satu langkah, satu komandan dan satu sumber komando. Kedua, kalau memang mereka pernah bersatu, apakah benar-benar dengan syarat-syarat diatas? apa artinya persatuan tanpa persaudaraan dan apa artinya jamaah tanpa ketaatan? ketiga, apakah kesatuan, persatuan, bahkan wujud keberadaan mereka benar-benar memberi manfaat seindah janji, slogan dan seremoni yang selalu memberi harapan dan memupus kekecewaan, setidaknya untuk beberapa saat. Maukah mereka yang telah mengklaim diri berukhuwah untuk menjaga batas terendah dan tertinggi (Lower & upper ) -nya. Minimal bila sesuatu menimpa ukhuwah, ia tak pernah merosot melampaui batas salamatus shadr (kesuciaan hati) terhadap saudara dan batas tertingginya al-Itsar (memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri).

Mereka yang menaruh harapan kepada kinerja suatu institusi umat, silahkan menjawab, dapatkah unsur-unsur utama dakwah dipenuhi, yaitu harakah mustamirrah (gerak yang kontinyu), ghayah shahihah (tujuan yang benar), manahij wadhihah, qiyadah mukhlishah dan junud muthi`ah (pimipinan yang ikhlas dan kader yang taat, QS. Yusuf ; 108) ? Bila suatu gerakan, partai, jami`ah atau jama`ah tak mampu memenuhi tuntutan tersebut, maka semua tonggak harapan sebaiknya dibongkar saja, karna itu hanya akan berbuah sesal dan kecewa.

Mengundang grup sirkus, teater atau ludruk lebih cerdas dari pada berharap dapat menyaksikan “permainan cantik” gerombolan pemain watak yang tak pernah jelas, selalu terbalik, balik memerankan komedi pada judul drama dan melakoni drama pada judul komedi, terbahak-bahak pada episode kematian dan menangis pilu pada event perkawinan.

Tauhid, Taqwa, Itsar dan Ukhuwah vs Baghyi

Dari penumbuhan aqidah yang benar lahirlah perilaku yang benar, persaudaraan yang benar dan pengorbanan yang benar. Apa yang membuat masyarakat Anshar rela menjadikan bumi mereka bumi islam dan bertekad melindungi Rasulullah SAW seperti mereka melindungi anak-anak dan isteri mereka.  Padahal mereka belum pernah melihat wajahnya, kecuali sedikit Anshar yang menerima islam di mina, beberapa musim haji menjelang hijrah.

Baghyi (permusuhan&kedengkian) mendominasi sebab-sebab utama perpecahan. Ia dapat bernama iri, hasad, dengki, su-uzzhan, dll. Sejak pembunuhan perdana dilakukan salah satu anak adam terhadap saudaranya, sejarah dengki mewarnai kehidupan anak manusia. Sebelumnya dengan sangat apik syaithan mengemas dengki, dusta dan kelicikan dengan kata-kaya simpatik. baginya memasukkan sebanyak-banyaknya anak manusia kedalam neraka, jauh lebih menggiurkan daripada taubat yang akan mengangkatnya kembali ke dejarat yang paling tinggi.

Rasa iri yang sangat dalam kepada Adam atas kemuliaan yang ia kehendaki, adalah cermin sikap pembangkangan dan anti syukur yang dominan di warisi iblis kepada anak israil. Itu yang membuat mereka tega untuk `melenyapkan` Yusuf adik mereka. Bahwa `keshalihan` menjadi obsesi yang lumrah diantara mereka nampak jelas dalam obsesi romantik yang kelak akan mereka `wujudkan` pasca eksekusi aksi makar. Suatu persepsi keshalihan orang akhir zaman yang membayangkannya dalam simbol-simbol, atribut-atribut atau ekspresi-skrepsi religius dengan menafikkan kenistaan perilaku kesehariaan, kebusukkan praktek bisinis atau kelicikkan langkah politis “Bunuhlah Yusuf atau buang ke (sebuah kawasan) bumi, agar wajah ayah selalu tertuju kepada kalian dan sesudah itu kalian boleh menjadi orang yang shalih.” (QS. Yusuf :9)

Bila saling menghina, buruk sangka, gampang percaya pada provokasi, tajassus (Praktek memata-matai sesama saudara) dan ghibah (menggunjing), menjadi sebab langsung rusaknya hubungan sesama saudara, maka pelanggaran janji (naqdhul mitsaq) kepada Allah, pelanggaran komitmen dan perusakan loyalitas menjadi sebab hancurnya persatuan, maraknya permusuhan dan kebencian dan meluasnya pengkhianatan (QS. Al Maidah:13-14).

Bahan bakar perpecahan

Bahan bakar paling marak yang dieksploitasi para politisi comberan yang memimpikan kesemestaan kaliber, kadang tampil dalam sekumpulan pendukung fanatik yang mengganti perjalanan panjang ibadah menuju sorga, dengan tujuan-tujuan pendek dunia. Mempersepsikan agama dalam mitos ilmu kebal, kanuragan dan asihan serta menukar perangkat petunjuk yang begitu terang dan sempurna, menjadikannya kalimat-kalimat terbaca tanpa kepeduliaan makna, terbunyikan tanpa melibatkan hati dan akal budi, menjadi semacam industri yang tak mengenal krisis dan karenanya harus dilestrikan. Sepanjang masa kelompok ini adalh kayu bakar bagi api unggun dan batu urugan bagi altar kurban (madzbah) besar diatasnya.

Mereka semacam keabadian yang tak terpunahkan, mengalir terus dalam ketidak-tahuan. Mereka adalah amuk pembelaan kepada para pemimpin yang lebih tepat peternak manusia-manusia bodoh atau pawang orang-orang buas dikota dan didesa.  Mereka keaabadian harapan yang menggantung pada figur-figur semu yang tak pernah (mau atau mampu) memenuhi harapan. Karena telah diperkaya dengan sejuta baik sangka dan kekebalan yang luar biasa dari kemungkinan menangkap kelicikan para pemimpin. Selebihnya segelintir penjilat yang berharap kucuran kelebihan yang mengalir dari lelehan liur sang pemimpin sambil menakut-nakuti rakyat dengan berbagai uniform yang melambangkan kekuatan, kekebalan, kekuasaan dan “keshalehan”.  Keatas menjilat, kebawah menginjak. Bila perkubuan telah dimulai, maka perang kesia-siaan tak terelakkan, cepat atau lebih cepat lagi. Mengguratkan luka sejarah yang pedih dan berbau busuk.

Pertarungan paling beradab

Barang siapa yang mampu membayangkan betapa sulitnya proses pengambilan keputusan dalam kasus kasus fitnah yang melanda mulai era khalifah ke-3, akan asangat takjub betapa bijaknya para sahabat dalam menyelesaikan persoalan diantra mereka. Betapa dangkalnya hujjah mereka yang hobi bertikai, berdalih “para sahabatpun saling bertikai”. Mereka lupa, imam Ali bin Abi thalib yang begitu disibukkan oleh kaum khawarij masih memberikan mereka hak-hak. ” kalian berhak 3 hal atas kami : 1. Kami tidak menutup pintu masjid-masjid kami, 2. Kalian berhak atas ghanimah, selama loyalitas kalian masih pada kami, 3. Kami tak akan mengayunkan pedang kepada kalian selama kalian tidak mengayunkannya pada kami”
Ketika Ammar bin Yasir ra yang mendukung khalifah III amirul mukmini Ali bin Abi thalib mendengar seseorang mencaci maki Ummul mukminin Aisyah berseberangan dengan beliau  dalam perang unta (ma`rakah jamal), ia berkata pada orang itu, “Celaka engkau, bukankah engkau tau ia adalah kekasih rasulullah SAW dan ia adalah isterinya didunia dan akhirat. Tetapi Allah ingin menguji kita dengan dia, agar ia tahu apakah kita taat kepadaNya atau kepada Aisyah.”

Ketika para provokator memanas-manasi imam ali dengan pancingan takfir (pengkafiran terhadap sesam muslim) dalam hubungan dengan Muawiyah ra, beliau menjawab ringan : “Mereka adalah ikhwan kami yang berontak kepada kami.” Tak ada jenazah mereka yang dibiarkan tanpa diurus secara islam, kecuali suatu insiden yang lebih merupakan hasil Ijtihad sebelum diketahuinya nash. Tidak ada harta mereka yang dijadikan ghanimah atau isteri dan perempuan mereka dijadikan sahaya, dizaman yang “kuno” jauh dari era moderen, saat penjarahan, pembakaran masjid, pesantren dan madrasah sesama muslim atau fatwa larangan berbelanja kesesama muslim yang lain golongan, madzhab atau ormas telah merebak tanpa penyesalan atau permintaan maaf!

Kembali ke identitas

Jaminan-jaminan kekebalan (dhamanatul baqa`) suatu gerakan, setelah kecemerlangan istinbath (Analogi, konklusi) atas surat Yusuf 108 yang merumuskan lima unsur utama jalan dakwah tersebut, masih menyisakan empat tuntutan.

Pertama, maukah para pendukungnya membawa umat muslim dan non muslim menuju pemahaman islam yang benar, terpadu dan jernih.
Kedua, gerakan ini harus mencantumkan dalam agendanya penegakan syariah dan khilafah serta mengeksiskan agama ini dimuka bumi.
Ketiga, menempuh jalan yang benar dalam rangka penegakkan kedua tujuan diatas. Memulai dengan kekuatan aqidah wal wihdah (keyakinan dan kesatuan) kemudian sa`it wassilah (tangan dan senjata) masing-masing menurut tuntunan dan tuntutan kondisi, merupakan penempuhan cara yang benar. Gerakan yang tidak menjadikan Jihad sebagai bagaian dari agendanya, tak patut menjadi pemimpin.
Keempat, memenuhi seluruh medan dunia islam, tidak terbelah belah dalam pecahan-pecahan teritori yang saling berasingan.

03
Jul
09

Ukhuwah

Alangkah indahnya gagasan, bila ada pendukungnya. Alangkah indahnya pendukung bila dibingkai dengan amal jama’i dan dijiwai persaudaraan. Tentu saja persaudaraan disini tidak dengan arti kronisme, najis yang melahirkan kezaliman yang menimpa semua yang bukan “saudara” atau “kefamilian” yang membuat semua tatanan kacau karena pameo “saya keponakan Bapak” atau “tolong masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan”, dengan konotasi “sogok”, “suap” dan segala derivatnya.

Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan “kelapangan hati” dan setinggi-tingginya “itsar” : memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Karena seperti pesan Bapak persaudaraan islam abad XX Assyahid Hasan Al Banna : “Saudara yang lurus memandang pada saudaranya lebih utama dari pada dirinya sendiri “. Karena seandainya ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan bersama siapa-siapa. Sebaiknya bila mereka tidak bersamanya, maka mereka dapat bersama dengan yang lainnya.  Tentu saja hal ini sangat berat diterima oleh orang yang menafsirkannya sebagai primordialisme, sekterianisme dan fanatisme. Cobala lengkapi lagi dengan pernyataan sebelumnya: “Yang kumaksud dengan Ukhuwah ialah bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah ikatan yang kuat dan mahal.
Ukhuwah itu adalah saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur. Ada hamba-hamba Allah bukan nabi, bukan syuhada namun “diri” oleh para nabi dan syuhada dihadapan Allah. “Mereka orang -orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau hubungan kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan tidak bersedih, bila ummat manusia bersedih (HR Ahmad)

Bersaudara dalam senang dan susah

Belakangan, jama’ah dengan sejumlah prestasi gemilang dan nilai-nilai yang dijunjung yang diwarisi sang imam ini, juga digelari sebagai zuwwarussijn (pengunjung tetap penjara), yang kerap tanpa landasan hukum yang jelas. Saat penghuni lainnya berkelahi memperebutkan selimut yang takk cukup, air yang kurang, makanan yang minim dan bangsal penjara yang penuh sesak, mereka telah selesai menata siapa yang banyak hafalan, sepenuh AlQuran, sepertiganya, setengahnya dan seterusnya. Atau lebih dalam atau luas ilmunya, untuk kemudian segera memulai program menghafal AlQuran, kuliah penjara atau program lainnya. Mereka keluar dengan peningkatan prestasi AlQuran, tambahan bahasa asing dan selesai strata kuliah dengan gemilang. Yang tidur belakangan merelakan pangkuannya menjadi bantal bagi saudaranya dan sebaliknya.

“………Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mu’min dan merukunkan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua yang ada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (QS: Al Anfal 62-63).

Banyak orang mengira dapat mengahancurkan mereka dengan cara melemparkan fitnah kedalam shaf, serangan fisik dan penghancuran berbagai sarana dan prasarana. Mungkin kepala dapat berpisah dari jasad dan perbedaan ide menajam namun Ukhuwah tetap kokoh dan abadi tidak tergoyahkan oleh keterbatasan sifat-sifat kemanusiaan.

Ukhuwah yang jujur dan benar

Amal apapun memerlukan kesungguhan dalam menunaikannya, termasuk kesungguhan berukhuwah. Dia  bukanlah senyum formal ketika bertemu sesama, atau kalimat simpati bila sang saudara tertimpa musibah. Ia adalah Inisiatif, bukan menunggu, memberi, bukan menuntut, tangan diatas atau bukan tangan dibawah.

Seorang aktifis terperangah ketika ia mendapat jawaban yang tak pernah ia banyangkan sebelumnya. “Engkau mengeluh saudaramu tak menegurmu, tak mendahuluimu dengan salam dan saudaramu yang lain tidak dinamis dan produktif? Apakah engkau sendiri telah memulai teguran dan salam kepadanya? Tidakkah engkau sadar bahwa tak ada lagi yang menjadi teladanmu, engakaulah yaang menjadi teladan mereka dan ditanya Allah atas kepemimpinanmu.

Banyak orang bersaudara karena kesatuan suku, usaha  atau partai, ormas atau jama’ah. Tidak sepatutnya Ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh tembok-tembok rapuh. Karenanya membicarakan keburukan orang (ghibah), membawa berita yang membawa permusuhan (naminah), serta memata-matai orang lain (tajassus) tidak semata halal karena mereka bukan saudara seorganisasi. Siapapun mereka, dalam ikatan iman, telah memiliki “kesakralan” Ukhuwah yang pantang dinodai.

Betapa mengerikan kelakuan beruang, singa dan harimau yang mencabik-cabikan daging mangsanya. Lebih mengeriakn lagi makhluk yang berdasi, berkopiah, bersorban dan ‘berperadaban’ yang memakan daging saudaranya sendiri. Abdullah bin Amir bin Ash ‘kecewa’ karena pengintainya kepada rumah seseorang  calon penghuni sorga gagal total, karena ia tidak menemukan ibadah-ibadah unggulan yang dilakukan saudaranya tersebut. Namun ia merasa terhibur ketika saudaranya tersebut mengatakan : ” Yang selalu kujaga ialah, tak pernah aku menutup mata untuk tidur, sebelum melepas perasaan tak baik terhadap sesama muslim”.

Seseorang telah mencerca Ummu’l Mu’minin Aisyah Radhiyallhu’anha, didepan Ammar bin Yasir Radiyallahu’anhu yang dalam wa’qah Jamal (insiden /perang unta) Ammar jelas berpihak pada Ali bin Abi Thalib RA. Tapi apa kata Ammar? “Diam engkau wahai siburuk lupa, akankah kau sakiti kecntaan Rasulullah SAW, Aku bersaksi bahwa ia adalah isterinya disorga. Ibunda kita Aisyah radhiyallahu’anha telah memilih jalannya dan kita tahu ia adalah isteri Rasulullah SAW du dunia dan akhirat. Akan tetapi Allah telah menguji kita dengannya, agar ia tahu apakah kepada-Nya kita taat kepadanya.”

Muawiyah radhiyallahu’anhu yang dengan permintaannya sendiri meminta Dhirar menceritakan sifat Ali bin Abi Thalib radhiyallah’anhu , menangis tak tertahankan setelah mendengar dan membenarkan penuturan sifat-sifat Utama Ali bin Abi Thalib. “Bagaimana sedihmu terhadapnya, wahai Dhirar? ” tanya Mu’awiyah. “Seperti sedihnya seorang ibu yang anak tunggalnya disembelih di pangkuannya sendiri, tak akan berhenti airmatanya dan tak akan berhenti dukanya ….”, jawab Dhirar.
Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya, apakah lawan-lawan politiknya itu musyrikin? jawabnya: justru dari kemusyrikinan itu mereka berlari. “jadi siapa mereka itu? Mereka ikhwan (saudara) kita, berontak kepada kita, jelas Ali. 

Suatu hari Ibnu Abbas ra menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit, padahal ia sedang berbeda pendapat yang sangat tajam pada Zaid bin Tsabit pada suatu masalah dan yakin akan kebenaran Ijtihadnya dan kesalahan pada Ijtihad Zaid bin Tasbit. ” Tak usahlah , wahai putera paman Rasulullah SAW,” pinta Zaid. “Demikianlah kami diperintahkan ulama dan pembesar-pembesar kami.” jawab Ibnu Abbas. “Tolong perlihatkan tanganmu,” pinta Zaid. Ketika Ibnu Abbas memperlihatkan tangannya, segera Zaid menciumnya.” Begitulah kami diperintahkan kepada ahli bait Rasulullah SAW,” ujar Zaid.

Saudara dan Persaudaraan

Arrabi’ Al- Aslami, dari generasi gemilang sahabat yang jadi relawan dan melayani keperluan sehari-hari Rasulullah SAW diminta mengajukan permintaan oleh Rasulullah SAW. Apa jawab Arrabi’ : “kuminta agar tetap dapat menemanimu di surga,” sahautnya. Al-Hasan Al-Bashri mungkin mewakili kalangan jernih, seperti juga Arrabi’, dengan kesederhanaan hidup dan ketajaman pandangan, berujar, “Tak ada yang tersisa dari kehidupan kecuali tiga: Pertama, saudara (akh)-mu yang dapat kau peroleh kebaikan dari bergaul dengannya. Bila kamu tersesat dari jalan yang lurus maka ia akan meluruskanmu. Kedua, Sholat dalam keterpaduan; engkau akan terlindung dari ‘melupakannya’ dan meliput ganjarannya. Ketiga, Cukuplah kebahagiaan hidup bila engkau tidak punya beban tuntutan seseorang dihari kiamat.”
Dilematis, persaudaraan dan persahabatan yang hampa nilai, saat tak ada diperlukan, saat diperlukan tak berguna.

12
Jun
09

Agar Futur Tidak Menghantui

Oleh Ustadz Mahfudz Siddiq, Msi.

“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Saudaraku…

Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.

Ada fenomena kelesuan atau futur dalam dimensi aqidah dan umumnya terjadi karena pergeseran orientasi hidup, lebih berorientasi pada materi duniawi an sich. Dan ada juga dalam dimensi ibadah dengan lemahnya disiplin -indhibath- terhadap amaliyah ubudiyah yaumiyah (harian). Adapun dalam dimensi fikriyah terlihat dengan lemahnya semangat meningkatkan ilmu. Di sisi lain pergeseran adab islami menyelimuti akhlaq mereka, belum lagi rasa jenuh dalam mengikuti aktivitas tarbawiyah atau pembinaan keislaman dan hubungan yang terlalu longgar antar lawan jenis.

Dalam hidup akan banyak ditemui bermacam jalan. Kadang datar, kadang menurun, kadang pula meninggi. Begitu pula dalam perjalanan dakwah. Ada saatnya para muharrik (orang yang bergerak) menemui jalan yang lurus dan mudah. Namun tidak jarang menjumpai onak dan duri. Hal demikian juga terjadi pada muharrik. Suatu saat ia memiliki kondisi iman yang tinggi. Di saat lain, iapun dapat mengalami degradasi iman. Tabiat manusia memang menggariskan demikian.

Dalam kondisi iman yang turun ini, para muharrik kadang terkena satu penyakit yang membahayakan kelangsungan gerang langkah dakwah. Yaitu penyakit futur atau kelesuan.

Saudaraku…

Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak atau diam setelah bergerak, atau malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh.

Terjadinya futur bagi muharrik, sebenarnya merupakan hal yang wajar. Asal saja tidak mengakibatkan terlepasnya muharrik dari roda dakwah. Hanya malaikat yang mampu kontinyu mengabdi kepada Allah dengan kualitas terbaik.

Firman Allah, “dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20)

Karena itu Rasulallah sering berdoa:

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku akhirnya. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku keridhaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku saat bertemu dengan-Mu.”

Penyebab Futur

Walaupun futur merupakan hal yang mungkin terjadi bagi muharrik, ada beberapa penyebab yang dapat menyegerakan timbulnya:

Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama)

Berlebihan pada suatu jenis amal akan berdampak kepada terabaikannya kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sikap yang dituntut pada kita dalam beramal adalah washathiyyah atau sedang dan tengah-tengah agar tidak terperangkap dalam ifrath dan tafrith (mengabaikan kewajiban yang lain).

Dalam hadits yang lain Rasul bersabda:

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim)

Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu.

Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan)

Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun para sahabat sangat menjaganya. Mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari hal yang mubah karena takut terjatuh pada yang haram. Berlebihan dalam makanan menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Kegemukan akan memberatkan badan. Sehingga orang menjadi malas. Malas membuat seseorang menjadi santai. Dan santai mengakibatkan kemunduran. Karena itu secara keseluruhan hal ini bisa menghalangi dalam amal dakwah.

Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah)

Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan. Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (H.R. Ahmad)

Jika setan telah memasuki hatinya, maka tak sungkan hatinya akan melahirkan zhan (prasangka) yang tidak pada tempatnya kepada organisasi atau jamaah. Jika berlanjut, hal ini menyebabkan hilangnya sikap tsiqah (kepercayaan) kepada organisasi atau jamaah.

Dengan berjamaah, seseorang akan selalu mendapatkan adanya kegiatan yang selalu baru. Ini terjadi karena jamaah merupakan kumpulan pribadi, yang masing-masing memiliki gagasan dan ide baru. Sedang tanpa jamaah seseorang dapat terperosok kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu imam Ali berkata: “Sekeruh-keruh hidup berjamaah, lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri.”

Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat)

Saudaraku…

Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingat akan adanya hisab atas setiap amalnya. Kebalikannya, sedikit mengingat kehidupan akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemacu amal berupa keinginan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah pada hari yaumul hisab nanti. Karena itu Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian)

Pelaksanaan ibadah secara tekun, membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Selalu terjaga komunikasi sambung rasa antara ia dengan Allah swt. Ini membuatnya mempersiapkan kondisi ruhiyah atau spiritual yang baik sebagai dasar untuk bergerak dakwah. Namun sebaliknya, kelalaian untuk melaksanakan amalan, berupa rangkaian ibadah baik yang wajib maupun sunnah, dapat membuat seseorang terjerumus untuk sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Allah. jika ini terjadi, maka sulit baginya menjaga kondisi ruhiyah dalam keadaan taat kepada Allah. kadang hal ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk berbicara kepada hati. Dakwah yang benar, selalu memulainya dengan memanggil hati manusia, sementara sedikitnya pelaksanaan ibadah membuatnya sedikit memiliki cahaya.

Allah berfirman: “Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)

Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram)

Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah)

Setiap perjuangan selalu menghadapi tantangan. Haq dan bathil selalu berusaha untuk memperbesar pengaruhnya masing-masing. Akan selalu ada orang-orang Pendukung Islam. Di lain pihak akan selalu tumbuh orang-orang pendukung hawa nafsu. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki akan bertemu dalam suatu “fitnah”. Dalam bahasa Arab, kata “fitnah” berasal dari kata yang digunakan untuk menggambarkan proses penyaringan emas dari batu-batu lainnya. Karena itu “fitnah” merupakan sunnatullah yang akan mengenai para pelaku dakwah. Dengan “fitnah” Allah juga menyaring siapa hamba yang masuk golongan shadiqin dan siapa yang kadzib (dusta). Dan jika fitnah itu datang, sementara ia tidak siap menerimanya, besar kemungkinan akan terjadi pengubahan orientasi dalam perjuangannya. Dan itu membuat futur. Allah Berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al-Ahqaf: 14)

Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah)

Kondisi lingkungan (biah) dapat menentukan kualitas seseorang. Teman yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Akan tumbuh suasana ta’awun atau tolong-menolong dan saling menasihatkan. Sementara teman yang buruk dapat melunturkan hamasah (kemauan) yang semula telah menjadi tekad. Karena itu Rasulullah bersabda:

“Seseorang atas diri sahabatnya, hendaklah melihat salah seorang di antara kalian siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)

Kesembilan, spontanitas dalam beramal (Tidak ada perencanaan yang baik dalam beramal, baik dalam skala individu atau fardi maupun komunitas atau jama’i)

Amal yang tidak terencana, yang tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Hanya akan timbul kepenatan dalam berdakwah, sementara hasil yang ditunggu tak kunjung datang. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.

Kesepuluh, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat)

Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Bahkan untuk menjaga diri sendiri pun sulit.

Cara Mengobati Kelesuan

Saudaraku…

Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep.

Pertama, jauhi kemaksiatan

Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.” (Thaha: 81)

Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman:

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (Al-A’raf: 96)

Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam

Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah swt. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah.

Allah berfirman:

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan: 63-64)

Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik

Dalam banyak hadits Rasulullah saw. banyak menginformasikan adanya waktu-waktu tertentu dimana Allah swt. lebih memperhatikan doa hamba-Nya. Sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, antara dua khutbah, ba’da Ashar hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, rajab dll. Waktu-waktu itu memiliki keistimewaan yang dapat mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.

Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan.

Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya.

Firman Allah:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 6)

Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan. (Al-Baqarah: 143)

Kelima, melazimi Jamaah

“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.”

Dengan jamaah seorang muharrik akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuatnya selalu terikat dengan komitmennya semula. Juga jamaah dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan rutinitas.

Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang

Saudaraku…

Pengetahuan pelaku dakwah dan pejuang akan tabiat jalan yang hendak dilalui serta rambu-rambu yang ada, akan membuatnya siap, minimal tidak gentar, untuk menjalani rintangan yang akan datang. Allah berfirman:

“Dan beberapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja.

Dengan perencanaan yang baik, Pembagian tugas yang jelas, serta kesadaran akan tanggung jawab yang diemban, dapat membuat harakah menjadi harakatul muntijah (harakah yang berhasil). Perencanaan akan menyadarkan pejuang, bahwa jalan yang ditempuh amat panjang. Tujuan yang akan dicapai amat besar. Karena itu juga dibutuhkan waktu, amal dan percobaan yang besar. Jika ini semua telah dimengerti, insya Allah akan tercapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.

Kedelapan, memilih teman yang shalih

Rasulullah bersabda:

“Seseorang tergantung pada sahabatnya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)

Kesembilan, menghibur diri dengan hal yang mubah

Bercengkerama dengan keluarga, mengambil secukupnya kegiatan rekreatif serta memberikan hak badan secara cukup mampu membuat diri menjadi segar kembali untuk melanjutkan amal yang sedang dikerjakan.

Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka

Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Saudaraku…

Ketahuilah, bahwa futur menyebabkan jalan dakwah yang harus di tempuh menjadi lebih panjang, sebab tidak mendapatkan ma’iyatullah (kebersamaan dan pembelaan Allah) dan daya intilaq (lompatan) kita menjadi lebih berat, baik karena borosnya biaya dan rontoknya para pejuang dan penyeru dakwah. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita, Amin. Wallahu a’lam bis shawab

diambil dari sini




 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Quote

"I am a traveler seeking the truth, a human searching for the meaning of humanity and a citizen seeking dignity, freedom, stability and welfare under the shade of Islam. I am a free man who is aware of the purpose of his existence and who proclaims: “Truly, my prayer and my sacrifice, my living and my dying are all for Allah, the Lord of the worlds; no partner has He. This, am I commanded and I am of those who submit to His Will.” This is who I am. Who are you?" (Hassan al-Banna)

Online

tracker

Your IP Address

Kalender Hijriyah

Blog Stats

  • 20,070 hits

Qur’an Flash

Powered by