Archive for July, 2009

30
Jul
09

Humor dan Canda Rasulullah SAW

Beberapa riwayat humor dan canda Rasulullah saw. berikut semoga dapat menjadi inspirasi humor yang sehat, cerdas, positif dan menyegarkan.

Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”. Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?” Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)

Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)

Seorang sahabat bernama Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah mencintainya, begitu juga Zahir. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah, “Zahir ini adalah lelaki padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya”. Suatu hari ketika Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang dengan erat. Zahir: “Heii……siapa ini?? lepaskan aku!!!”, Zahir memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya Rasulullah. Zahir-pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata: “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini??” Zahir: “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai di pandangan mereka” Rasulullah: “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir. Mau dibeli Allah atau dibeli manusia?” Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukan Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad dari Anas ra)

Suatu ketika, Rasulullah saw dan para sahabat ra sedang ifthor. Hidangan pembuka puasa dengan kurma dan air putih. Dalam suasana hangat itu, Ali bin Abi Tholib ra timbul isengnya. Ali ra mengumpulkan kulit kurma-nya dan diletakkan di tempat kulit kurma Rasulullah saw. Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan kalau Rasulullah saw sepertinya sangat lapar dengan adanya kulit kurma yang lebih banyak. Rasulullah saw yang sudah mengetahui keisengan Ali ra segera “membalas” Ali ra dengan mengatakan kalau yang lebih lapar sebenarnya siapa? (antara Rasulullah saw dan Ali ra). Sedangkan tumpukan kurma milik Ali ra sendiri tak bersisa. (HR. Bukhori, dhoif)

Aisyah RA berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping. Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau, ”Silakan kalian berjalan duluan!” Para sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari. Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan:”Beliau lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu.”-suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau. Beliau pun berkata kepada para sahabatnya. “Silakan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu. kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?” Beliau berkata, “Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan ternyata beliau mendahului aku. Beliau tertawa seraya berkata, ” Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi Dawud)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada ‘Asiyah, “Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?” Beliau menjawab, ” Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu “Tidak demi Tuhan Muhammad” Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, “Tidak demi Tuhan Ibrahim!”. Aisyah pun menjawab, “Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja” (HR Bukhari dan Muslim)
Wallahu’alam Bisshawab. Wabillahit Taufiq Wal Hidayah.

diambil dari sini

29
Jul
09

Pecah

Oleh :  Allahuyarham Ustd. Rahmat Abdullah

“Dan Mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dikasihi Tuhanmu ….” (QS. 11: 118-119)
Beberapa alasan pantas diajukan, mengapa tajuk ini diangkat. Pertama, sukar untuk mengatakan sesuatu itu pecah kalau kenyataan sebenarnya mereka tak pernah benar-benar menyatu; satu niat, satu tujuan, satu langkah, satu komandan dan satu sumber komando. Kedua, kalau memang mereka pernah bersatu, apakah benar-benar dengan syarat-syarat diatas? apa artinya persatuan tanpa persaudaraan dan apa artinya jamaah tanpa ketaatan? ketiga, apakah kesatuan, persatuan, bahkan wujud keberadaan mereka benar-benar memberi manfaat seindah janji, slogan dan seremoni yang selalu memberi harapan dan memupus kekecewaan, setidaknya untuk beberapa saat. Maukah mereka yang telah mengklaim diri berukhuwah untuk menjaga batas terendah dan tertinggi (Lower & upper ) -nya. Minimal bila sesuatu menimpa ukhuwah, ia tak pernah merosot melampaui batas salamatus shadr (kesuciaan hati) terhadap saudara dan batas tertingginya al-Itsar (memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri).

Mereka yang menaruh harapan kepada kinerja suatu institusi umat, silahkan menjawab, dapatkah unsur-unsur utama dakwah dipenuhi, yaitu harakah mustamirrah (gerak yang kontinyu), ghayah shahihah (tujuan yang benar), manahij wadhihah, qiyadah mukhlishah dan junud muthi`ah (pimipinan yang ikhlas dan kader yang taat, QS. Yusuf ; 108) ? Bila suatu gerakan, partai, jami`ah atau jama`ah tak mampu memenuhi tuntutan tersebut, maka semua tonggak harapan sebaiknya dibongkar saja, karna itu hanya akan berbuah sesal dan kecewa.

Mengundang grup sirkus, teater atau ludruk lebih cerdas dari pada berharap dapat menyaksikan “permainan cantik” gerombolan pemain watak yang tak pernah jelas, selalu terbalik, balik memerankan komedi pada judul drama dan melakoni drama pada judul komedi, terbahak-bahak pada episode kematian dan menangis pilu pada event perkawinan.

Tauhid, Taqwa, Itsar dan Ukhuwah vs Baghyi

Dari penumbuhan aqidah yang benar lahirlah perilaku yang benar, persaudaraan yang benar dan pengorbanan yang benar. Apa yang membuat masyarakat Anshar rela menjadikan bumi mereka bumi islam dan bertekad melindungi Rasulullah SAW seperti mereka melindungi anak-anak dan isteri mereka.  Padahal mereka belum pernah melihat wajahnya, kecuali sedikit Anshar yang menerima islam di mina, beberapa musim haji menjelang hijrah.

Baghyi (permusuhan&kedengkian) mendominasi sebab-sebab utama perpecahan. Ia dapat bernama iri, hasad, dengki, su-uzzhan, dll. Sejak pembunuhan perdana dilakukan salah satu anak adam terhadap saudaranya, sejarah dengki mewarnai kehidupan anak manusia. Sebelumnya dengan sangat apik syaithan mengemas dengki, dusta dan kelicikan dengan kata-kaya simpatik. baginya memasukkan sebanyak-banyaknya anak manusia kedalam neraka, jauh lebih menggiurkan daripada taubat yang akan mengangkatnya kembali ke dejarat yang paling tinggi.

Rasa iri yang sangat dalam kepada Adam atas kemuliaan yang ia kehendaki, adalah cermin sikap pembangkangan dan anti syukur yang dominan di warisi iblis kepada anak israil. Itu yang membuat mereka tega untuk `melenyapkan` Yusuf adik mereka. Bahwa `keshalihan` menjadi obsesi yang lumrah diantara mereka nampak jelas dalam obsesi romantik yang kelak akan mereka `wujudkan` pasca eksekusi aksi makar. Suatu persepsi keshalihan orang akhir zaman yang membayangkannya dalam simbol-simbol, atribut-atribut atau ekspresi-skrepsi religius dengan menafikkan kenistaan perilaku kesehariaan, kebusukkan praktek bisinis atau kelicikkan langkah politis “Bunuhlah Yusuf atau buang ke (sebuah kawasan) bumi, agar wajah ayah selalu tertuju kepada kalian dan sesudah itu kalian boleh menjadi orang yang shalih.” (QS. Yusuf :9)

Bila saling menghina, buruk sangka, gampang percaya pada provokasi, tajassus (Praktek memata-matai sesama saudara) dan ghibah (menggunjing), menjadi sebab langsung rusaknya hubungan sesama saudara, maka pelanggaran janji (naqdhul mitsaq) kepada Allah, pelanggaran komitmen dan perusakan loyalitas menjadi sebab hancurnya persatuan, maraknya permusuhan dan kebencian dan meluasnya pengkhianatan (QS. Al Maidah:13-14).

Bahan bakar perpecahan

Bahan bakar paling marak yang dieksploitasi para politisi comberan yang memimpikan kesemestaan kaliber, kadang tampil dalam sekumpulan pendukung fanatik yang mengganti perjalanan panjang ibadah menuju sorga, dengan tujuan-tujuan pendek dunia. Mempersepsikan agama dalam mitos ilmu kebal, kanuragan dan asihan serta menukar perangkat petunjuk yang begitu terang dan sempurna, menjadikannya kalimat-kalimat terbaca tanpa kepeduliaan makna, terbunyikan tanpa melibatkan hati dan akal budi, menjadi semacam industri yang tak mengenal krisis dan karenanya harus dilestrikan. Sepanjang masa kelompok ini adalh kayu bakar bagi api unggun dan batu urugan bagi altar kurban (madzbah) besar diatasnya.

Mereka semacam keabadian yang tak terpunahkan, mengalir terus dalam ketidak-tahuan. Mereka adalah amuk pembelaan kepada para pemimpin yang lebih tepat peternak manusia-manusia bodoh atau pawang orang-orang buas dikota dan didesa.  Mereka keaabadian harapan yang menggantung pada figur-figur semu yang tak pernah (mau atau mampu) memenuhi harapan. Karena telah diperkaya dengan sejuta baik sangka dan kekebalan yang luar biasa dari kemungkinan menangkap kelicikan para pemimpin. Selebihnya segelintir penjilat yang berharap kucuran kelebihan yang mengalir dari lelehan liur sang pemimpin sambil menakut-nakuti rakyat dengan berbagai uniform yang melambangkan kekuatan, kekebalan, kekuasaan dan “keshalehan”.  Keatas menjilat, kebawah menginjak. Bila perkubuan telah dimulai, maka perang kesia-siaan tak terelakkan, cepat atau lebih cepat lagi. Mengguratkan luka sejarah yang pedih dan berbau busuk.

Pertarungan paling beradab

Barang siapa yang mampu membayangkan betapa sulitnya proses pengambilan keputusan dalam kasus kasus fitnah yang melanda mulai era khalifah ke-3, akan asangat takjub betapa bijaknya para sahabat dalam menyelesaikan persoalan diantra mereka. Betapa dangkalnya hujjah mereka yang hobi bertikai, berdalih “para sahabatpun saling bertikai”. Mereka lupa, imam Ali bin Abi thalib yang begitu disibukkan oleh kaum khawarij masih memberikan mereka hak-hak. ” kalian berhak 3 hal atas kami : 1. Kami tidak menutup pintu masjid-masjid kami, 2. Kalian berhak atas ghanimah, selama loyalitas kalian masih pada kami, 3. Kami tak akan mengayunkan pedang kepada kalian selama kalian tidak mengayunkannya pada kami”
Ketika Ammar bin Yasir ra yang mendukung khalifah III amirul mukmini Ali bin Abi thalib mendengar seseorang mencaci maki Ummul mukminin Aisyah berseberangan dengan beliau  dalam perang unta (ma`rakah jamal), ia berkata pada orang itu, “Celaka engkau, bukankah engkau tau ia adalah kekasih rasulullah SAW dan ia adalah isterinya didunia dan akhirat. Tetapi Allah ingin menguji kita dengan dia, agar ia tahu apakah kita taat kepadaNya atau kepada Aisyah.”

Ketika para provokator memanas-manasi imam ali dengan pancingan takfir (pengkafiran terhadap sesam muslim) dalam hubungan dengan Muawiyah ra, beliau menjawab ringan : “Mereka adalah ikhwan kami yang berontak kepada kami.” Tak ada jenazah mereka yang dibiarkan tanpa diurus secara islam, kecuali suatu insiden yang lebih merupakan hasil Ijtihad sebelum diketahuinya nash. Tidak ada harta mereka yang dijadikan ghanimah atau isteri dan perempuan mereka dijadikan sahaya, dizaman yang “kuno” jauh dari era moderen, saat penjarahan, pembakaran masjid, pesantren dan madrasah sesama muslim atau fatwa larangan berbelanja kesesama muslim yang lain golongan, madzhab atau ormas telah merebak tanpa penyesalan atau permintaan maaf!

Kembali ke identitas

Jaminan-jaminan kekebalan (dhamanatul baqa`) suatu gerakan, setelah kecemerlangan istinbath (Analogi, konklusi) atas surat Yusuf 108 yang merumuskan lima unsur utama jalan dakwah tersebut, masih menyisakan empat tuntutan.

Pertama, maukah para pendukungnya membawa umat muslim dan non muslim menuju pemahaman islam yang benar, terpadu dan jernih.
Kedua, gerakan ini harus mencantumkan dalam agendanya penegakan syariah dan khilafah serta mengeksiskan agama ini dimuka bumi.
Ketiga, menempuh jalan yang benar dalam rangka penegakkan kedua tujuan diatas. Memulai dengan kekuatan aqidah wal wihdah (keyakinan dan kesatuan) kemudian sa`it wassilah (tangan dan senjata) masing-masing menurut tuntunan dan tuntutan kondisi, merupakan penempuhan cara yang benar. Gerakan yang tidak menjadikan Jihad sebagai bagaian dari agendanya, tak patut menjadi pemimpin.
Keempat, memenuhi seluruh medan dunia islam, tidak terbelah belah dalam pecahan-pecahan teritori yang saling berasingan.

03
Jul
09

Ukhuwah

Alangkah indahnya gagasan, bila ada pendukungnya. Alangkah indahnya pendukung bila dibingkai dengan amal jama’i dan dijiwai persaudaraan. Tentu saja persaudaraan disini tidak dengan arti kronisme, najis yang melahirkan kezaliman yang menimpa semua yang bukan “saudara” atau “kefamilian” yang membuat semua tatanan kacau karena pameo “saya keponakan Bapak” atau “tolong masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan”, dengan konotasi “sogok”, “suap” dan segala derivatnya.

Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan “kelapangan hati” dan setinggi-tingginya “itsar” : memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Karena seperti pesan Bapak persaudaraan islam abad XX Assyahid Hasan Al Banna : “Saudara yang lurus memandang pada saudaranya lebih utama dari pada dirinya sendiri “. Karena seandainya ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan bersama siapa-siapa. Sebaiknya bila mereka tidak bersamanya, maka mereka dapat bersama dengan yang lainnya.  Tentu saja hal ini sangat berat diterima oleh orang yang menafsirkannya sebagai primordialisme, sekterianisme dan fanatisme. Cobala lengkapi lagi dengan pernyataan sebelumnya: “Yang kumaksud dengan Ukhuwah ialah bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah ikatan yang kuat dan mahal.
Ukhuwah itu adalah saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur. Ada hamba-hamba Allah bukan nabi, bukan syuhada namun “diri” oleh para nabi dan syuhada dihadapan Allah. “Mereka orang -orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau hubungan kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan tidak bersedih, bila ummat manusia bersedih (HR Ahmad)

Bersaudara dalam senang dan susah

Belakangan, jama’ah dengan sejumlah prestasi gemilang dan nilai-nilai yang dijunjung yang diwarisi sang imam ini, juga digelari sebagai zuwwarussijn (pengunjung tetap penjara), yang kerap tanpa landasan hukum yang jelas. Saat penghuni lainnya berkelahi memperebutkan selimut yang takk cukup, air yang kurang, makanan yang minim dan bangsal penjara yang penuh sesak, mereka telah selesai menata siapa yang banyak hafalan, sepenuh AlQuran, sepertiganya, setengahnya dan seterusnya. Atau lebih dalam atau luas ilmunya, untuk kemudian segera memulai program menghafal AlQuran, kuliah penjara atau program lainnya. Mereka keluar dengan peningkatan prestasi AlQuran, tambahan bahasa asing dan selesai strata kuliah dengan gemilang. Yang tidur belakangan merelakan pangkuannya menjadi bantal bagi saudaranya dan sebaliknya.

“………Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mu’min dan merukunkan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua yang ada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (QS: Al Anfal 62-63).

Banyak orang mengira dapat mengahancurkan mereka dengan cara melemparkan fitnah kedalam shaf, serangan fisik dan penghancuran berbagai sarana dan prasarana. Mungkin kepala dapat berpisah dari jasad dan perbedaan ide menajam namun Ukhuwah tetap kokoh dan abadi tidak tergoyahkan oleh keterbatasan sifat-sifat kemanusiaan.

Ukhuwah yang jujur dan benar

Amal apapun memerlukan kesungguhan dalam menunaikannya, termasuk kesungguhan berukhuwah. Dia  bukanlah senyum formal ketika bertemu sesama, atau kalimat simpati bila sang saudara tertimpa musibah. Ia adalah Inisiatif, bukan menunggu, memberi, bukan menuntut, tangan diatas atau bukan tangan dibawah.

Seorang aktifis terperangah ketika ia mendapat jawaban yang tak pernah ia banyangkan sebelumnya. “Engkau mengeluh saudaramu tak menegurmu, tak mendahuluimu dengan salam dan saudaramu yang lain tidak dinamis dan produktif? Apakah engkau sendiri telah memulai teguran dan salam kepadanya? Tidakkah engkau sadar bahwa tak ada lagi yang menjadi teladanmu, engakaulah yaang menjadi teladan mereka dan ditanya Allah atas kepemimpinanmu.

Banyak orang bersaudara karena kesatuan suku, usaha  atau partai, ormas atau jama’ah. Tidak sepatutnya Ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh tembok-tembok rapuh. Karenanya membicarakan keburukan orang (ghibah), membawa berita yang membawa permusuhan (naminah), serta memata-matai orang lain (tajassus) tidak semata halal karena mereka bukan saudara seorganisasi. Siapapun mereka, dalam ikatan iman, telah memiliki “kesakralan” Ukhuwah yang pantang dinodai.

Betapa mengerikan kelakuan beruang, singa dan harimau yang mencabik-cabikan daging mangsanya. Lebih mengeriakn lagi makhluk yang berdasi, berkopiah, bersorban dan ‘berperadaban’ yang memakan daging saudaranya sendiri. Abdullah bin Amir bin Ash ‘kecewa’ karena pengintainya kepada rumah seseorang  calon penghuni sorga gagal total, karena ia tidak menemukan ibadah-ibadah unggulan yang dilakukan saudaranya tersebut. Namun ia merasa terhibur ketika saudaranya tersebut mengatakan : ” Yang selalu kujaga ialah, tak pernah aku menutup mata untuk tidur, sebelum melepas perasaan tak baik terhadap sesama muslim”.

Seseorang telah mencerca Ummu’l Mu’minin Aisyah Radhiyallhu’anha, didepan Ammar bin Yasir Radiyallahu’anhu yang dalam wa’qah Jamal (insiden /perang unta) Ammar jelas berpihak pada Ali bin Abi Thalib RA. Tapi apa kata Ammar? “Diam engkau wahai siburuk lupa, akankah kau sakiti kecntaan Rasulullah SAW, Aku bersaksi bahwa ia adalah isterinya disorga. Ibunda kita Aisyah radhiyallahu’anha telah memilih jalannya dan kita tahu ia adalah isteri Rasulullah SAW du dunia dan akhirat. Akan tetapi Allah telah menguji kita dengannya, agar ia tahu apakah kepada-Nya kita taat kepadanya.”

Muawiyah radhiyallahu’anhu yang dengan permintaannya sendiri meminta Dhirar menceritakan sifat Ali bin Abi Thalib radhiyallah’anhu , menangis tak tertahankan setelah mendengar dan membenarkan penuturan sifat-sifat Utama Ali bin Abi Thalib. “Bagaimana sedihmu terhadapnya, wahai Dhirar? ” tanya Mu’awiyah. “Seperti sedihnya seorang ibu yang anak tunggalnya disembelih di pangkuannya sendiri, tak akan berhenti airmatanya dan tak akan berhenti dukanya ….”, jawab Dhirar.
Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya, apakah lawan-lawan politiknya itu musyrikin? jawabnya: justru dari kemusyrikinan itu mereka berlari. “jadi siapa mereka itu? Mereka ikhwan (saudara) kita, berontak kepada kita, jelas Ali. 

Suatu hari Ibnu Abbas ra menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit, padahal ia sedang berbeda pendapat yang sangat tajam pada Zaid bin Tsabit pada suatu masalah dan yakin akan kebenaran Ijtihadnya dan kesalahan pada Ijtihad Zaid bin Tasbit. ” Tak usahlah , wahai putera paman Rasulullah SAW,” pinta Zaid. “Demikianlah kami diperintahkan ulama dan pembesar-pembesar kami.” jawab Ibnu Abbas. “Tolong perlihatkan tanganmu,” pinta Zaid. Ketika Ibnu Abbas memperlihatkan tangannya, segera Zaid menciumnya.” Begitulah kami diperintahkan kepada ahli bait Rasulullah SAW,” ujar Zaid.

Saudara dan Persaudaraan

Arrabi’ Al- Aslami, dari generasi gemilang sahabat yang jadi relawan dan melayani keperluan sehari-hari Rasulullah SAW diminta mengajukan permintaan oleh Rasulullah SAW. Apa jawab Arrabi’ : “kuminta agar tetap dapat menemanimu di surga,” sahautnya. Al-Hasan Al-Bashri mungkin mewakili kalangan jernih, seperti juga Arrabi’, dengan kesederhanaan hidup dan ketajaman pandangan, berujar, “Tak ada yang tersisa dari kehidupan kecuali tiga: Pertama, saudara (akh)-mu yang dapat kau peroleh kebaikan dari bergaul dengannya. Bila kamu tersesat dari jalan yang lurus maka ia akan meluruskanmu. Kedua, Sholat dalam keterpaduan; engkau akan terlindung dari ‘melupakannya’ dan meliput ganjarannya. Ketiga, Cukuplah kebahagiaan hidup bila engkau tidak punya beban tuntutan seseorang dihari kiamat.”
Dilematis, persaudaraan dan persahabatan yang hampa nilai, saat tak ada diperlukan, saat diperlukan tak berguna.




 

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Quote

"I am a traveler seeking the truth, a human searching for the meaning of humanity and a citizen seeking dignity, freedom, stability and welfare under the shade of Islam. I am a free man who is aware of the purpose of his existence and who proclaims: “Truly, my prayer and my sacrifice, my living and my dying are all for Allah, the Lord of the worlds; no partner has He. This, am I commanded and I am of those who submit to His Will.” This is who I am. Who are you?" (Hassan al-Banna)

Online

tracker

Your IP Address

Kalender Hijriyah

Blog Stats

  • 20,070 hits

Qur’an Flash

Powered by