Archive for August, 2008

28
Aug
08

LENTERA JIWA (Andy F Noya)

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya
ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

26
Aug
08

Doa untuk Sekeranjang Tempe

Seorang ibu penjual tempe merasa Tuhan tidak mendengar doanya,
karena tempe buatannya masih belum jadi.
Bukan sekali dua kali dia bikin tempe.
Padahal dia harus menjual tempe untuk menafkahi hidupnya.

Di Karangayu, sebuah
desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak
ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia
jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti
mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..”
demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat
subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia
berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas
meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.

Tempe yang akan dia
jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian
berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya
lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang,
untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah
kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa,
terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah,
pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia
angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku.
Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku
ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu
kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan
mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia
tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.

Dadanya gemuruh. Dan
pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu
masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh
kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia
yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu
pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah
tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.
Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,
dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang
mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku
lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.
Bantulah aku, kabulkan doaku…”

Sebelum mengunci
pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.
Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari
daun itu, dan… belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya
memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai
tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.

Dia pun berjalan ke
pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan”
Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas
tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali
dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di
tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.
“Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan
berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia
terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti
ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata
menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe
ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku
menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia
gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia
sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau
membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa
sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian
menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak
akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang,
dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan
dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit,
karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya,
tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi.
Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Di tengah kesedihan
itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah,
seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.
“Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya
sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu
punya?”

Penjual tempe itu
bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab
pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya
Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau
kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi,
jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya.
Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang
sudah jadi tempe…”

“Bagaimana Bu?
Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya
lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan
jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia
buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat,
pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih
sama. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar.
Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus,
dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya,
mencari tempe kok yang belum jadi?”

“Oohh, bukan
begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai
sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat
saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi
semuanya berapa, Bu?”

Pembaca, ini kisah
yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan
“memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling
cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa
diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling
cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.

Sumber: m.yusuf.web.id

22
Aug
08

Cara melihat versi linux

Sebenarnya pertanyaan simple, bagaimana cara melihat distro dan versi linux yang digunakan,
hmmm…gw aja sempet bingung, ga tau apa lupa ya :D.

Begini caranya :

kalo elo tau pake debian, tinggal lo ketik cat /etc/deb…lo tekan tab aja, kemudian akan banyak pilihan, trus pilih debian_version

dns:~# cat /etc/deb…klik tab
debconf.conf debian_version default/ deluser.conf
dns:~# cat /etc/debian_version
4.0

ketauan deh, pc yang lo gunakan menggunakan distro debian versi 4.0 ;)




 

August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Quote

"I am a traveler seeking the truth, a human searching for the meaning of humanity and a citizen seeking dignity, freedom, stability and welfare under the shade of Islam. I am a free man who is aware of the purpose of his existence and who proclaims: “Truly, my prayer and my sacrifice, my living and my dying are all for Allah, the Lord of the worlds; no partner has He. This, am I commanded and I am of those who submit to His Will.” This is who I am. Who are you?" (Hassan al-Banna)

Online

tracker

Your IP Address

Kalender Hijriyah

Blog Stats

  • 20,463 hits

Qur’an Flash

Powered by