Alangkah indahnya gagasan, bila ada pendukungnya. Alangkah indahnya pendukung bila dibingkai dengan amal jama’i dan dijiwai persaudaraan. Tentu saja persaudaraan disini tidak dengan arti kronisme, najis yang melahirkan kezaliman yang menimpa semua yang bukan “saudara” atau “kefamilian” yang membuat semua tatanan kacau karena pameo “saya keponakan Bapak” atau “tolong masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan”, dengan konotasi “sogok”, “suap” dan segala derivatnya.

Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan “kelapangan hati” dan setinggi-tingginya “itsar” : memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Karena seperti pesan Bapak persaudaraan islam abad XX Assyahid Hasan Al Banna : “Saudara yang lurus memandang pada saudaranya lebih utama dari pada dirinya sendiri “. Karena seandainya ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan bersama siapa-siapa. Sebaiknya bila mereka tidak bersamanya, maka mereka dapat bersama dengan yang lainnya.  Tentu saja hal ini sangat berat diterima oleh orang yang menafsirkannya sebagai primordialisme, sekterianisme dan fanatisme. Cobala lengkapi lagi dengan pernyataan sebelumnya: “Yang kumaksud dengan Ukhuwah ialah bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah ikatan yang kuat dan mahal.
Ukhuwah itu adalah saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur. Ada hamba-hamba Allah bukan nabi, bukan syuhada namun “diri” oleh para nabi dan syuhada dihadapan Allah. “Mereka orang -orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau hubungan kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan tidak bersedih, bila ummat manusia bersedih (HR Ahmad)

Bersaudara dalam senang dan susah

Belakangan, jama’ah dengan sejumlah prestasi gemilang dan nilai-nilai yang dijunjung yang diwarisi sang imam ini, juga digelari sebagai zuwwarussijn (pengunjung tetap penjara), yang kerap tanpa landasan hukum yang jelas. Saat penghuni lainnya berkelahi memperebutkan selimut yang takk cukup, air yang kurang, makanan yang minim dan bangsal penjara yang penuh sesak, mereka telah selesai menata siapa yang banyak hafalan, sepenuh AlQuran, sepertiganya, setengahnya dan seterusnya. Atau lebih dalam atau luas ilmunya, untuk kemudian segera memulai program menghafal AlQuran, kuliah penjara atau program lainnya. Mereka keluar dengan peningkatan prestasi AlQuran, tambahan bahasa asing dan selesai strata kuliah dengan gemilang. Yang tidur belakangan merelakan pangkuannya menjadi bantal bagi saudaranya dan sebaliknya.

“………Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mu’min dan merukunkan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua yang ada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (QS: Al Anfal 62-63).

Banyak orang mengira dapat mengahancurkan mereka dengan cara melemparkan fitnah kedalam shaf, serangan fisik dan penghancuran berbagai sarana dan prasarana. Mungkin kepala dapat berpisah dari jasad dan perbedaan ide menajam namun Ukhuwah tetap kokoh dan abadi tidak tergoyahkan oleh keterbatasan sifat-sifat kemanusiaan.

Ukhuwah yang jujur dan benar

Amal apapun memerlukan kesungguhan dalam menunaikannya, termasuk kesungguhan berukhuwah. Dia  bukanlah senyum formal ketika bertemu sesama, atau kalimat simpati bila sang saudara tertimpa musibah. Ia adalah Inisiatif, bukan menunggu, memberi, bukan menuntut, tangan diatas atau bukan tangan dibawah.

Seorang aktifis terperangah ketika ia mendapat jawaban yang tak pernah ia banyangkan sebelumnya. “Engkau mengeluh saudaramu tak menegurmu, tak mendahuluimu dengan salam dan saudaramu yang lain tidak dinamis dan produktif? Apakah engkau sendiri telah memulai teguran dan salam kepadanya? Tidakkah engkau sadar bahwa tak ada lagi yang menjadi teladanmu, engakaulah yaang menjadi teladan mereka dan ditanya Allah atas kepemimpinanmu.

Banyak orang bersaudara karena kesatuan suku, usaha  atau partai, ormas atau jama’ah. Tidak sepatutnya Ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh tembok-tembok rapuh. Karenanya membicarakan keburukan orang (ghibah), membawa berita yang membawa permusuhan (naminah), serta memata-matai orang lain (tajassus) tidak semata halal karena mereka bukan saudara seorganisasi. Siapapun mereka, dalam ikatan iman, telah memiliki “kesakralan” Ukhuwah yang pantang dinodai.

Betapa mengerikan kelakuan beruang, singa dan harimau yang mencabik-cabikan daging mangsanya. Lebih mengeriakn lagi makhluk yang berdasi, berkopiah, bersorban dan ‘berperadaban’ yang memakan daging saudaranya sendiri. Abdullah bin Amir bin Ash ‘kecewa’ karena pengintainya kepada rumah seseorang  calon penghuni sorga gagal total, karena ia tidak menemukan ibadah-ibadah unggulan yang dilakukan saudaranya tersebut. Namun ia merasa terhibur ketika saudaranya tersebut mengatakan : ” Yang selalu kujaga ialah, tak pernah aku menutup mata untuk tidur, sebelum melepas perasaan tak baik terhadap sesama muslim”.

Seseorang telah mencerca Ummu’l Mu’minin Aisyah Radhiyallhu’anha, didepan Ammar bin Yasir Radiyallahu’anhu yang dalam wa’qah Jamal (insiden /perang unta) Ammar jelas berpihak pada Ali bin Abi Thalib RA. Tapi apa kata Ammar? “Diam engkau wahai siburuk lupa, akankah kau sakiti kecntaan Rasulullah SAW, Aku bersaksi bahwa ia adalah isterinya disorga. Ibunda kita Aisyah radhiyallahu’anha telah memilih jalannya dan kita tahu ia adalah isteri Rasulullah SAW du dunia dan akhirat. Akan tetapi Allah telah menguji kita dengannya, agar ia tahu apakah kepada-Nya kita taat kepadanya.”

Muawiyah radhiyallahu’anhu yang dengan permintaannya sendiri meminta Dhirar menceritakan sifat Ali bin Abi Thalib radhiyallah’anhu , menangis tak tertahankan setelah mendengar dan membenarkan penuturan sifat-sifat Utama Ali bin Abi Thalib. “Bagaimana sedihmu terhadapnya, wahai Dhirar? ” tanya Mu’awiyah. “Seperti sedihnya seorang ibu yang anak tunggalnya disembelih di pangkuannya sendiri, tak akan berhenti airmatanya dan tak akan berhenti dukanya ….”, jawab Dhirar.
Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya, apakah lawan-lawan politiknya itu musyrikin? jawabnya: justru dari kemusyrikinan itu mereka berlari. “jadi siapa mereka itu? Mereka ikhwan (saudara) kita, berontak kepada kita, jelas Ali. 

Suatu hari Ibnu Abbas ra menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit, padahal ia sedang berbeda pendapat yang sangat tajam pada Zaid bin Tsabit pada suatu masalah dan yakin akan kebenaran Ijtihadnya dan kesalahan pada Ijtihad Zaid bin Tasbit. ” Tak usahlah , wahai putera paman Rasulullah SAW,” pinta Zaid. “Demikianlah kami diperintahkan ulama dan pembesar-pembesar kami.” jawab Ibnu Abbas. “Tolong perlihatkan tanganmu,” pinta Zaid. Ketika Ibnu Abbas memperlihatkan tangannya, segera Zaid menciumnya.” Begitulah kami diperintahkan kepada ahli bait Rasulullah SAW,” ujar Zaid.

Saudara dan Persaudaraan

Arrabi’ Al- Aslami, dari generasi gemilang sahabat yang jadi relawan dan melayani keperluan sehari-hari Rasulullah SAW diminta mengajukan permintaan oleh Rasulullah SAW. Apa jawab Arrabi’ : “kuminta agar tetap dapat menemanimu di surga,” sahautnya. Al-Hasan Al-Bashri mungkin mewakili kalangan jernih, seperti juga Arrabi’, dengan kesederhanaan hidup dan ketajaman pandangan, berujar, “Tak ada yang tersisa dari kehidupan kecuali tiga: Pertama, saudara (akh)-mu yang dapat kau peroleh kebaikan dari bergaul dengannya. Bila kamu tersesat dari jalan yang lurus maka ia akan meluruskanmu. Kedua, Sholat dalam keterpaduan; engkau akan terlindung dari ‘melupakannya’ dan meliput ganjarannya. Ketiga, Cukuplah kebahagiaan hidup bila engkau tidak punya beban tuntutan seseorang dihari kiamat.”
Dilematis, persaudaraan dan persahabatan yang hampa nilai, saat tak ada diperlukan, saat diperlukan tak berguna.

Oleh Ustadz Mahfudz Siddiq, Msi.

“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Saudaraku…

Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.

Ada fenomena kelesuan atau futur dalam dimensi aqidah dan umumnya terjadi karena pergeseran orientasi hidup, lebih berorientasi pada materi duniawi an sich. Dan ada juga dalam dimensi ibadah dengan lemahnya disiplin -indhibath- terhadap amaliyah ubudiyah yaumiyah (harian). Adapun dalam dimensi fikriyah terlihat dengan lemahnya semangat meningkatkan ilmu. Di sisi lain pergeseran adab islami menyelimuti akhlaq mereka, belum lagi rasa jenuh dalam mengikuti aktivitas tarbawiyah atau pembinaan keislaman dan hubungan yang terlalu longgar antar lawan jenis.

Dalam hidup akan banyak ditemui bermacam jalan. Kadang datar, kadang menurun, kadang pula meninggi. Begitu pula dalam perjalanan dakwah. Ada saatnya para muharrik (orang yang bergerak) menemui jalan yang lurus dan mudah. Namun tidak jarang menjumpai onak dan duri. Hal demikian juga terjadi pada muharrik. Suatu saat ia memiliki kondisi iman yang tinggi. Di saat lain, iapun dapat mengalami degradasi iman. Tabiat manusia memang menggariskan demikian.

Dalam kondisi iman yang turun ini, para muharrik kadang terkena satu penyakit yang membahayakan kelangsungan gerang langkah dakwah. Yaitu penyakit futur atau kelesuan.

Saudaraku…

Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak atau diam setelah bergerak, atau malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh.

Terjadinya futur bagi muharrik, sebenarnya merupakan hal yang wajar. Asal saja tidak mengakibatkan terlepasnya muharrik dari roda dakwah. Hanya malaikat yang mampu kontinyu mengabdi kepada Allah dengan kualitas terbaik.

Firman Allah, “dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20)

Karena itu Rasulallah sering berdoa:

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku akhirnya. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku keridhaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku saat bertemu dengan-Mu.”

Penyebab Futur

Walaupun futur merupakan hal yang mungkin terjadi bagi muharrik, ada beberapa penyebab yang dapat menyegerakan timbulnya:

Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama)

Berlebihan pada suatu jenis amal akan berdampak kepada terabaikannya kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sikap yang dituntut pada kita dalam beramal adalah washathiyyah atau sedang dan tengah-tengah agar tidak terperangkap dalam ifrath dan tafrith (mengabaikan kewajiban yang lain).

Dalam hadits yang lain Rasul bersabda:

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim)

Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu.

Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan)

Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun para sahabat sangat menjaganya. Mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari hal yang mubah karena takut terjatuh pada yang haram. Berlebihan dalam makanan menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Kegemukan akan memberatkan badan. Sehingga orang menjadi malas. Malas membuat seseorang menjadi santai. Dan santai mengakibatkan kemunduran. Karena itu secara keseluruhan hal ini bisa menghalangi dalam amal dakwah.

Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah)

Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan. Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (H.R. Ahmad)

Jika setan telah memasuki hatinya, maka tak sungkan hatinya akan melahirkan zhan (prasangka) yang tidak pada tempatnya kepada organisasi atau jamaah. Jika berlanjut, hal ini menyebabkan hilangnya sikap tsiqah (kepercayaan) kepada organisasi atau jamaah.

Dengan berjamaah, seseorang akan selalu mendapatkan adanya kegiatan yang selalu baru. Ini terjadi karena jamaah merupakan kumpulan pribadi, yang masing-masing memiliki gagasan dan ide baru. Sedang tanpa jamaah seseorang dapat terperosok kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu imam Ali berkata: “Sekeruh-keruh hidup berjamaah, lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri.”

Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat)

Saudaraku…

Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingat akan adanya hisab atas setiap amalnya. Kebalikannya, sedikit mengingat kehidupan akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemacu amal berupa keinginan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah pada hari yaumul hisab nanti. Karena itu Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian)

Pelaksanaan ibadah secara tekun, membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Selalu terjaga komunikasi sambung rasa antara ia dengan Allah swt. Ini membuatnya mempersiapkan kondisi ruhiyah atau spiritual yang baik sebagai dasar untuk bergerak dakwah. Namun sebaliknya, kelalaian untuk melaksanakan amalan, berupa rangkaian ibadah baik yang wajib maupun sunnah, dapat membuat seseorang terjerumus untuk sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Allah. jika ini terjadi, maka sulit baginya menjaga kondisi ruhiyah dalam keadaan taat kepada Allah. kadang hal ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk berbicara kepada hati. Dakwah yang benar, selalu memulainya dengan memanggil hati manusia, sementara sedikitnya pelaksanaan ibadah membuatnya sedikit memiliki cahaya.

Allah berfirman: “Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)

Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram)

Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah)

Setiap perjuangan selalu menghadapi tantangan. Haq dan bathil selalu berusaha untuk memperbesar pengaruhnya masing-masing. Akan selalu ada orang-orang Pendukung Islam. Di lain pihak akan selalu tumbuh orang-orang pendukung hawa nafsu. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki akan bertemu dalam suatu “fitnah”. Dalam bahasa Arab, kata “fitnah” berasal dari kata yang digunakan untuk menggambarkan proses penyaringan emas dari batu-batu lainnya. Karena itu “fitnah” merupakan sunnatullah yang akan mengenai para pelaku dakwah. Dengan “fitnah” Allah juga menyaring siapa hamba yang masuk golongan shadiqin dan siapa yang kadzib (dusta). Dan jika fitnah itu datang, sementara ia tidak siap menerimanya, besar kemungkinan akan terjadi pengubahan orientasi dalam perjuangannya. Dan itu membuat futur. Allah Berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al-Ahqaf: 14)

Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah)

Kondisi lingkungan (biah) dapat menentukan kualitas seseorang. Teman yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Akan tumbuh suasana ta’awun atau tolong-menolong dan saling menasihatkan. Sementara teman yang buruk dapat melunturkan hamasah (kemauan) yang semula telah menjadi tekad. Karena itu Rasulullah bersabda:

“Seseorang atas diri sahabatnya, hendaklah melihat salah seorang di antara kalian siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)

Kesembilan, spontanitas dalam beramal (Tidak ada perencanaan yang baik dalam beramal, baik dalam skala individu atau fardi maupun komunitas atau jama’i)

Amal yang tidak terencana, yang tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Hanya akan timbul kepenatan dalam berdakwah, sementara hasil yang ditunggu tak kunjung datang. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.

Kesepuluh, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat)

Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Bahkan untuk menjaga diri sendiri pun sulit.

Cara Mengobati Kelesuan

Saudaraku…

Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep.

Pertama, jauhi kemaksiatan

Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.” (Thaha: 81)

Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman:

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (Al-A’raf: 96)

Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam

Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah swt. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah.

Allah berfirman:

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan: 63-64)

Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik

Dalam banyak hadits Rasulullah saw. banyak menginformasikan adanya waktu-waktu tertentu dimana Allah swt. lebih memperhatikan doa hamba-Nya. Sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, antara dua khutbah, ba’da Ashar hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, rajab dll. Waktu-waktu itu memiliki keistimewaan yang dapat mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.

Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan.

Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya.

Firman Allah:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 6)

Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan. (Al-Baqarah: 143)

Kelima, melazimi Jamaah

“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.”

Dengan jamaah seorang muharrik akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuatnya selalu terikat dengan komitmennya semula. Juga jamaah dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan rutinitas.

Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang

Saudaraku…

Pengetahuan pelaku dakwah dan pejuang akan tabiat jalan yang hendak dilalui serta rambu-rambu yang ada, akan membuatnya siap, minimal tidak gentar, untuk menjalani rintangan yang akan datang. Allah berfirman:

“Dan beberapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja.

Dengan perencanaan yang baik, Pembagian tugas yang jelas, serta kesadaran akan tanggung jawab yang diemban, dapat membuat harakah menjadi harakatul muntijah (harakah yang berhasil). Perencanaan akan menyadarkan pejuang, bahwa jalan yang ditempuh amat panjang. Tujuan yang akan dicapai amat besar. Karena itu juga dibutuhkan waktu, amal dan percobaan yang besar. Jika ini semua telah dimengerti, insya Allah akan tercapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.

Kedelapan, memilih teman yang shalih

Rasulullah bersabda:

“Seseorang tergantung pada sahabatnya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)

Kesembilan, menghibur diri dengan hal yang mubah

Bercengkerama dengan keluarga, mengambil secukupnya kegiatan rekreatif serta memberikan hak badan secara cukup mampu membuat diri menjadi segar kembali untuk melanjutkan amal yang sedang dikerjakan.

Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka

Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Saudaraku…

Ketahuilah, bahwa futur menyebabkan jalan dakwah yang harus di tempuh menjadi lebih panjang, sebab tidak mendapatkan ma’iyatullah (kebersamaan dan pembelaan Allah) dan daya intilaq (lompatan) kita menjadi lebih berat, baik karena borosnya biaya dan rontoknya para pejuang dan penyeru dakwah. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita, Amin. Wallahu a’lam bis shawab

diambil dari sini

i’ve tested and it works…you shoul try it, link from here
Install and Configure SARG for Dansguardian on CentOS

Install and Configure SARG to report against Dansguardian log files on CentOS

Go back to the main project page

By this point, you should already have DansGuardian and Squid cache installed, configured, and tested. If not, please visit the Open Source Web Content Filtering Project page to finish that part of the setup.

There is other settings I’m looking into with regards to DansGuardian. This is just a rough way to get SARG up and reporting.

Install Apache

* yum install httpd – install Apache if not already installed

Add ports to firewall

* You may need to add a firewall rule to allow port 80
* vi /etc/sysconfig/iptables – add the following lines, if they don’t already exist
* -A RH-Firewall-1-INPUT -m state –state NEW -m tcp -p tcp –dport 80 -j ACCEPT

Install SARG

* cd /usr/src – optional, this is just where I like to keep the source archives
* wget http://dag.wieers.com/rpm/packages/sarg/sarg-2.2.1-1.el4.rf.i386.rpm – download the SARG rpm to your /usr/src folder
* yum install gd gd-devel
* rpm -i /usr/src/sarg-2.2.1-1.el4.rf.i386.rpm – install SARG using the Red Hat Package manager
* vi /etc/httpd/conf.d/sarg.conf

* add an additional Allow from line for each computer you want to be able to see the reports, or comment out the Deny from all, and Allow from lines to give access to all.

Configure DansGuardian and SARG to work with each other

* vi /etc/dansguardian/dansguardian.conf

* change the setting logfileformat to equal 3 – sets DansGuardian to log in squid log file format
* :wq – save the changes to the file and quit

* vi /etc/sarg/sarg.conf

* change the setting access_log to point to your dansguardian logs. Under default settings, it should be /var/log/dansguardian/access.log
* change any other settings you want to change
* :wq – save the changes to the file and quit

* Check the sarg scripts in the cron folders. You will need to make some changes to point to the DansGuardian log files

* vi /etc/cron.daily/sarg – really no changes here
* vi /etc/cron.weekly/sarg – change the log file paths to the path of your DansGuardian log files
* vi /etc/cron.monthly/sarg – change the log file paths to the path of your DansGuardian log files

* /usr/bin/sarg – run sarg to create a ONE-SHOT report

Start Apache

* /etc/init.d/httpd start – Start Apache

Test Configuration

* browse to your DansGuardian machine using your favorite internet browser. You will have to add /sarg to the end of the url. (ex. http://192.168.0.1/sarg Check to make sure the ONE-SHOT report was generated.

* wait for the cron jobs to run and generate the rest of the reports

Done

Next Page »