14
Oct
09

Kepiting dan Seafood, Halalkah?

Belakangan ini, semakin banyak muncul pertanyaan seputar masalah seafood khususnya kepiting (crab) seiring dengan munculnya wirausaha restoran seafood dan budidaya kepiting, apakah halal atau haram untuk memakannya yang membuat sebagian masyarakat muslim ragu-ragu untuk menyantapnya, padahal mungkin sebelumnya sangat menyukai menu masakan kepiting dan hobi memakannya. Lalu, bagaimanakah sebenarnya hukum menjualnya sebagai masakan sea food ataupun memasoknya ke restoran dan warung yang menjualnya. Hal ini mungkin jarang dibahas dalam buku-buku dan tulisan fiqih sementara pada realitasnya, persoalan ini banyak dihadapi dalam keseharian, baik dari sisi konsumsi, produksi maupun distribusi penjualannya.

Di kalangan umat Islam Indonesia, secara tradisional, status hukum mengkonsumsi kepiting masih dipertanyakan kehalalannya. Fenomena itu sebenarnya berangkat dari kesadaran umum akan pentingnya sikap berhati-hati menghindari barang yang haram dan hanya mengkonsumsi barang yang halal.

Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk mengkonsumsi yang halal dan thayyib (baik), baik dalam mengkonsumsi jenis makanan hewani, dan jenis-jenis lainnya antara lain dalam firmannya:

“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah [2]: 168).

“(yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” (QS. al-A`raf [7]: 157).

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya” (QS. al-Maidah:4).

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (QS. An-Nahl:114).

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS.Al-Maidah:88)

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (QS.Al-Maidah:96)

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.al-Baqarah:29)

Demikian pula Nabi saw berpesan tentang keharusan memperhatikan kehalalan maupun keharaman sesuatu yang dikonsumsi demi menjaga kesucian diri dan keterkabulan jiwa, antara lain dalam sabdanya:

“Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah adalah thayyib (baik), tidak akan menerima kecuali yang thayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman segala apa yang Ia perintahkan kepada para rasul. Ia berfirman, ‘Hai rasul-rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. al-Mu’minun [23]: 51), dan berfirman pula, ‘Hai orang yang beriman! Makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu…’ (QS. al-Baqarah: 172).

Kemudian Nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya berlumur debu. Sambil menengadahkan tangan ke langit ia berdoa, ‘Ya Tuhan; ya Tuhan…’ (Berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umum-nya dikabulkan oleh Allah–pen.). Sedangkan, makanan orang itu haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. (Nabi memberikan komentar), ‘Jika demikian halnya, bagaimana mungkin ia akan dikabulkan doanya?’” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

“Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan di antara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya…” (HR. Muslim).

Dalam konteks status hukum mengkonsumsi suatu barang ataupun binatang, maka selama tidak ditemukan dalil yang akurat ataupun indikasi kuat yang dapat dikategorisasikan ke dalam salah satu jenis yang diharamkan Allah, maka seharusnya kita kembali kepada hukum asal yakni halal atau mubah.

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.22) bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh (al-Ashlu fil asya’ al-ibahah) menurut beliau bahwa hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan manfaatnya adalah halal dan boleh, kecuali apa yang ditentukan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Maka jika tidak ada nash seperti itu maka hukumnya kembali kepada asalnya yakni boleh. (istishab hukmil ashl). Prinsip inilah yang dipakai Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menentukan hukum segala sesuatu selain ibadah dan aqidah. (Qawa’id Nuraniyah Fiqhiyah, hal. 112-113)

Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas (sharih), firman Allah: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah:29) Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah:13 dan Luqman:20. Inilah bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakunya syariah yang memperluas wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh Nabi saw: “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka ia adalah halal (hukumnya) dan apa yang Dia haramkan maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu.” (HR. Hakim dan Bazzar)

Ketika Rasulullah saw ditanya tentang hukum mentega, keju dan keledai liar, beliau enggan menjawab satu persatu masalah parsial ini melainkan beliau alihkan kepada kaidah dasar hukum agar mereka dapat cerdas menyimpulkan segala persoalan dengan sabdanya: “Sesuatu yang halal itu adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya dan sesuatu yang haram itu adalah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, dan apa yang Allah diamkan (tidak sebutkan) berarti termasuk apa yang dimaafkan (dibolehkan) untuk kamu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Bahkan Rasulullah melarang kita untuk mencari-cari alasan untuk mempersoalkan sesuatu yang Allah sengaja diamkan itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa hal fardhu maka jangan kamu abaikan, dan telah menggariskan beberapa batasan maka jangan kamu langgar dan telah mengharamkan beberapa hal maka jangan kamu terjang serta telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kamu tanpa unsur kelupaan maka jangan kamu permasalahkan.”(HR. Dar Quthni)

Bila kita telusuri berbagai macam kitab-kitab fiqih dalam masalah makanan, niscaya akan kita temukan suatu kesimpulan bahwa hukum asal makanan adalah halal dan tidak dapat diharamkan kecuali berdasarkan dalil khas yang spesifik. (Mausu’ah Fiqhiyah, Kuwait, vol V hal. 123)

Allah telah menjelaskan secara jelas dan tuntas semua yang halal maupun yang haram. (QS. Al-A’raf: 157, An-Nisa’:29, Al-Maidah:4, Al-An’am: 119, 145). Dari sini para ulama menyimpulkan kaidah bahwa prinsip dasar makanan adalah halal kecuali bila terdapat larangan dari nash (Al-Qur’an dan Sunnah) Di antara faktor-faktor dan unsur-unsur kandungan yang dapat mengharamkan makanan di antaranya:

1. Dipastikan dapat menimbulkan dharar (bahaya) bagi fisik manusia. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah:195). Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibolehkan melakukan sesuatu yang membahayakan (dharar) diri sendiri dan orang lain (dhirar).” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad.) dan sabdanya: “Barang siapa yang mereguk racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racunnya akan tetap berada di tangannya seraya ia mereguknya di neraka Jahannam selama-lamanya.” (HR. Bukhari)

2. Memabukkan, melalaikan atau menghilangkan ingatan. Seperti segala jenis minuman keras, obat-obatan terlarang, candu, narkotika dan zat adiktif lainnya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah:90). Rasulullah saw bersabda: “segala sesuatu jika banyaknya memabukkan, maka yang sedikitnya pun haram.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

3. Najis dan terkontaminasi najis. Contoh: babi, darah, anjing, bangkai (selain ikan dan belalang). (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Kuwait, vol. V/125) Allah berfirman:

“Katakanlah:”Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena semua itu najis atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al-An’am: 145).
Selain itu, di dalam mazhab Syafi’i kita temukan larangan syariah untuk mengkonsumsi binatang yang hidup di dua alam (air dan darat).

Apabila kita dapati Nabi saw melarang beberapa jenis makanan atau binatang di luar konteks yang dinashkan oleh al-Qur’an maka ulama fiqih dan ushul seperti Imam Asy-Syaukani mengkategorikan larangan Nabi tersebut sebagai larangan makruh bukan haram. Atau bila terdapat kesesuaian ‘illat (sebab) hukum pengharaman dalam al-Qur’an seperti najis atau indikasi najis, rijs atau fisq yang semuanya digolongkan khabaits kebalikan halal yang identik dengan thoyyibat secara umum. Maka hal itu termasuk kategori qiyas (analogi) terhadap larangan al-Qur’an.

As-Syaukani melihat tidak ada relevansinya pengharaman binatang yang diperintahkan oleh Nabi untuk dibunuh maupun yang dilarang Nabi untuk dibunuh merupakan konsekuensi logis dan kultural untuk menjadi dalil pengharaman untuk memakannya maka hal itu tidak dapat dijadikan dasar pengharaman. Namun bila binatang yang diperintahkan Nabi untuk membunuhnya maupun yang dilarang untuk membunuhnya termasuk kategori khabaits (najis) maka pengharamannya berdasarkan ayat di atas, jika tidak mengandung unsur khabaits yang manshus (ditegaskan oleh nash ayat) maka hukumnya kembali kepada hukum asal yakni halal berdasarkan dalil dan kaidah umum. (Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, V/14)

Keraguan sementara umat Islam tentang kehalalan kepiting adalah karena diduga ia hidup di dua alam. Hal tersebut perlu mendapatkan penjelasan ilmiah tentang tabiat dan karakteristik biologis kepiting itu sendiri apakah hidupnya memang benar-benar di dua alam, atau termasuk binatang darat atau binatang yang hanya bisa hidup di air. Imam al-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfadz al-Minhaj, (VIII/150-152) menjelaskan bahwa pengertian “binatang laut/air” adalah binatang yang tidak dapat hidup kecuali di air dan jika keluar darinya dalam waktu lama ia tidak akan bisa bertahan hidup, sedangkan “binatang yang hidup di laut/air dan di daratan” yaitu yang hidup di dua alam tersebut secara permanen seperti katak, sarathan (cancer) atau disebut kala jengking air dan ular adalah haram karena kejorokan dan bahayanya.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Syeikh Muhammad al-Khathib al-Syarbaini dalam Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani al-Minhaj, (IV/297), Imam Abu Zakaria bin Syaraf al-Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin, (IV/298) serta syarah Imam Asy-Syarbaini yang pada kesimpulan bahwa binatang laut yang tidak hidup kecuali padanya adalah halal untuk dimakan berdasarkan keumuman ayat dan hadits yang menegaskan kehalalannya. Sebagaimana hadits Nabi saw. “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Khamsah).

Ibn al-‘Arabi dan ulama lain sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah (III/249) berpendapat bahwa binatang yang hidup di daratan dan di laut secara bersamaan hukumnya yang benar adalah haram untuk dimakan, karena terdapat padanya kontradiksi antara dalil yang mengharamkan dan dalil yang menghalalkan, maka kita cenderung mengharamkan untuk lebih berhati-hati. Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa para ulama selain Ibnu Al-‘Arabi berpendapat bahwa semua binatang yang hidupnya secara efektif hanya bertahan di air hukumnya halal sekalipun telah menjadi bangkai meskipun ia dapat hidup di darat untuk sejenak, kecuali katak tetap haram.

Berdasarkan pendapat ahli biologi, Dr. Sulistiono (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB) dalam makalah Eko-Biologi Kepiting Bakau (Scylla spp) (2002) dapat disimpulkan bahwa sebenarnya jenis kepiting yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia tidak termasuk dalam kategori hewan yang hidup di dua alam.
Ia menjelaskan bahwa terdapat empat jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas, yaitu: a) Scylla serrata, b) Scylla tranquebarrica, c) Scylla olivacea, dan d) Scylla paramamosain. Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan “kepiting”.

Kepiting menurutnya adalah termasuk jenis binatang air, dengan alasan: a) Bernafas dengan insang, b) Berhabitat di air, c) Tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.

Sebenarnya kepiting, termasuk keempat jenis di atas hanya ada yang hidup di air tawar saja, hidup di air laut saja, atau hidup di air laut dan di air tawar Jadi, tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam; di laut/air dan di darat.

Majelis Ulama Indonesia melalui rapat Komisi Fatwa pada tanggal 15 Juni 2002 berdasarkan uraian ilmiah dari para pakar terkait dengan masalah ini menyimpulkan bahwa kepiting adalah bintang air, baik di air laut maupun di air tawar dan bukan binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam yaitu tidak hidup di laut dan di darat sekaligus secara permanen.

Dengan demikian hukum kepiting yang biasa dikonsumsi di Indonesia dan hidup di satu alam saja yaitu di air adalah halal, baik untuk dikonsumsi, dijual dan diternakkan sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia serta proses memasaknya tidak dicampuri atau menggunakan bahan yang dilarang syariah seperti arak Cina (angciu) yang dikategorikan sebagai khamer. Persoalan thoyyib (sifat baik) dan tidaknya dari segi kesehatan terkait dengan kadar kolesterol dan sebagainya, maka dikembalikan secara relatif kepada kondisi kesehatan fisik masing-masing individu serta pola hidup sehatnya. Wallahu A’lam.

Wabillahit Taufiq wal Hidayah.

Dr. Setiawan Budi Utomo

artikel dari sini

03
Sep
09

Goethe Embraced Islam

goethe-sm.jpgGerman poet, novelist, playwright and natural philosopher, one of the greatest figures in Western literature after whom countless institutes and associations have been named all over Europe and North America, namely Goethe Institute. All evidence have been taken from his own works and his letters to friends.
As a young man Goethe wanted to study oriental studies – but his father finally wanted him to study law; he always admired the first travellers to Arabia (Michaelis, Niebuhr), he was fascinated by it and read everything they published about their trips. In 1814/15 at the time of his „Divan“ Goethe trained himself with the professors for oriental studies Paulus, Lorsbach and Kosegarten (Jena) in reading and writing Arabic. After looking at his Arabic manuscripts and having known about the Qur’an, Goethe felt a great yearning to learn Arabic. He copied short Arabic Du’as by himself and wrote: „In no other language spirit, word and letter are embodied in such a primal way.“ (Letter to Schlosser, 23.1.1815, WA IV, 25, 165)

At the age of 70 Goethe writes (Notes and Essays to the Divan, WA I, 17, 153) that he intends „to celebrate respectfully that night when the Prophet was given the Koran completely from above“ He also wrote: „No one may wonder about the great efficiency of the Book. That is why it has been declared as uncreated by real admirers“ and added to it: „This book will eternally remain highly efficacious/effective“ (WA I, 7, 35/36)

Still today we have the handwritten manuscripts of his first intensive Qur’an-studies of 1771/1772 and the later ones in the Goethe and Schiller-Archive in Weimar. Goethe read the German translation of Qur’an by J. v. Hammer (possibly as well from the more prosaic English translation of G. Sale) out loud in front of members of the Duke’s family in Weimar and their guests. Being witnesses Schiller and his wife reported about the reading. (Schiller’s letter to Knebel, 22.2.1815) Goethe always felt the shortcomings of all the translations (Latin, English, German and French) and was constantly looking for new translations. In his „Divan“ Goethe says:

„Whether the Koran is of eternity?
I don’t question that!…
That it is the book of books
I believe out of the muslim’s duty.“

„Ob der Koran von Ewigkeit sei?
Darnach frag’ ich nicht ! …
Da_ er das Buch der B|cher sei
Glaub’ ich aus Mosleminen- Pflicht“
(WA I, 6, 203)

He studied Arabic handbooks, grammars, travel-books, poetry, anthologies, books on the sira of the Prophet Muhammad – may Allah bless him and give him peace! – and had a widespread exchange with oriental scholars about these matters. Goethe liked the German translation of Hafis’ „Diwan“ by Hammer (May 1814) and studied the different translations of Qur’an of his time. All of this inspired him to write his own „West-stlicher Divan“ and of course many poems of the „Divan“ are clearly inspired by and relate to different Ayats of Qur’an (see Mommsen, p. 269-274).

Goethe bought original Arabic manuscripts of Rumi, Dschami, Hafis, Saadi, Attar, Qur’an-Tafsir, Du’as, an Arabic-Turkish dictionary, texts on matters like the freeing of slaves, buying and selling, interest, usury and Arabian scripts from Sultan Selim.

Goethe considered it not to be a mere accident but rather as meaningful incidents, in fact as part of his decree and signs of Allah, when in Autumn 1813 he was brought an old Arabic handwritten manuscript from Spain by a German soldier coming from Spain which contained the last Surat An-Nas (114). Later Goethe tried to copy it himself with the help of the professors in Jena who had helped him in finding out the manuscript’s content in January 1814 he visited a prayer of Bashkir Muslims from the Russian army of Zar Alexander in the protestant gymnasium of Weimar.

See the letter to Trebra, 5.1.1814 (WA IV, 24, 91) where he says: „Speaking of prophecies, I have to tell you that there are things happening these days, which they would not have allowed a prophet to say. Who would have been allowed some years ago to say that there would be held a mahommedan divine service and the Suras of Koran would be murmured in the auditorium of our protestant gymnasium and yet it happened and we attended the Bashkir service, saw their Mulla and welcomed their Prince in the theatre. Out of special favour I was presented with a bow and arrows which for eternal memory I will hang above my chimney as soon as God has decreed a lucky return for them.“

In a letter to his son August from the 17.1.1814 (WA IV, 24, 110) he adds: „Several religious ladies of us have asked for the translation of the Coran from the library.“ Goethe’s positive attitude towards Islam goes far beyond anyone in Germany before: He published on 24.2.1816: „The poet [Goethe]… does not refuse the suspicion that he himself is a Muslim.“ (WA I, 41, 86) In another poem of the „Divan“ Goethe says:

„Stupid that everyone in his case
Is praising his particular opinion!
If Islam means submission to God,
We all live and die in Islam.“

„Ndrrisch, da_ jeder in seinem Falle
Seine besondere Meinung preist!
Wenn Islam Gott ergeben hei_t,
In Islam leben und sterben wir alle.“
(WA I, 6, 128 )

Apart from Goethe’s – the poet’s – fascination for the language of Qur’an, its beauty and sublimeness, he was mostly attracted by its religious and philosophical meaning: the unity of God, the conviction that God manifests in nature/creation is one of the major themes in Goethe’s work. During his first intensive Qur’an-studies Goethe copied and partly put right the text of the first direct translation of the Qur’an from Arabic into German in 1771/1772.

Goethe wrote down different Ayats of Qur’an which teach man how he should see nature in all its phenomena as signs of divine laws. The multiplicity of the phenomena indicates the One God. The relation towards nature as the Qur’an presents it connected with the teaching of the kindness and oneness of God – as Goethe writes it down from the Ayats of Sura No. 2 – became the main pillars on which Goethe’s sympathy and affinity towards Islam was based. Goethe said we should realize „God’s greatness in the small“ – „Gottes Gr’e im Kleinen“ and refers to the Ayat of Surat Al-Baqara, vers 25 where the metaphor of the fly is given.

Goethe was very impressed about the fact that Allah speaks to mankind by prophets and thus he confirmed the prophet Muhammad – may Allah bless him and give him peace!: In 1819 Goethe writes (referring to Sura „Ibrahim“, Ayat 4) „It is true, what God says in the Qur’an: We did not send a prophet to a people but in their language.“ (Letter to A.O. Blumenthal, 28.5.1819, WA IV, 31, 160) Referring to the same Ayat Goethe repeats in a letter to Carlyle: „The Koran says: God has given each people a prophet in its own language.“ (20.7.1827, WA IV, 42, 270) It appears again in 1827 in an essay of Goethe in: German Romance. Vol. IV. Edinburgh 1827 (WA I, 41, 307)

Goethe affirmed the rejection of the unbelievers’ challenge to the prophet Muhammad – may Allah bless him and give him peace! – to show them miracles where he says: „Wonders I can not do said the Prophet, / The greatest miracle is that I am.“ (Paralipomenon III, 14 of the Divan, WA I, 6, 476)

In „Mahomet“ Goethe wrote the famous song of praise „Mahomets Gesang“. The meaning of the prophet is put into the metaphor of the stream, starting from the smallest beginning and growing to be an immense spiritual power, expanding, unfolding, and gloriously ending in the ocean, the symbol for divinity. He especially describes the religious genius in carrying the other people with him like the stream does with small brooks and rivers. On a handwritten manuscript of the Paralipomena III, 31 of the „Divan“ Goethe writes on the 27.1.1816:

„Head of created beings / Muhammed“. (WA I, 6, 482)

Furthermore that true religion is shown by good action. Here Goethe especially liked the action of giving Sadaqa, giving to the needy. In several poems of the Divan, „Buch der Sprche“ Goethe speaks about „the pleasure of giving“ / „die Wonne des Gebens“ / „See it rightly and you will always give“ – „Schau es recht, und du wirst immer geben“ (WA I, 6, 70) which already in this life is full of blessings.

Goethe is also well known for his rejection of the concept of chance/accident: „What people do not and can not realize in their undertakings and what rules most obviously at its best where their greatness should shine – the chance as they call it later – exactly this is God, who here directly enters and glorifies Himself by the most trifling.“ (conversation with Riemer, November 1807)

The increasingly firm belief in the decree of God (conversation with chancellor Mller, 12.8.1827, WA I, 42, 212, WA I, 32, 57) and the verse of a Divan-poem: „If Allah had determined me to be a worm;/ He would have created me as a worm.“ (WA I, 6, 113) and more „they [-examples of metaphors used in the Divan -] represent the wonderful guidance and providence coming out of the unexplorable, inconceivable decree of God; they teach and confirm the true Islam, the absolute submission to the will of God, the conviction, that no one may avoid his once assigned destiny.“ (WA I, 7, 151ff) resulted in his personal attitude of submission under the will of God, i.e. Goethe saw it as an order to accept it thankfully and not to rebel against it. See famous examples for this in his „Egmont“, „Dichtung und Wahrheit“, „Urworte Orphisch“ and „Wilhelm Meisters Wanderjahre“ etc.

A deeply moving example from his own life was his reaction to the accident of his coach when he started his third journey to Marianne von Willemer (July 1816), who he intended to marry after Christiane had died about which he felt extremly unhappy. Goethe took this as a clear warning not to pursue his wish anymore and completely refrained from his original intention. After that Goethe wrote: „And thus we have to remain inside Islam, (that means: in complete submission to the will of God)…“ (WA IV, 27, 123) He said: „I cannot tell you more than this that also here I try to remain in Islam.“ (Letter to Zelter, 20.9.1820, WA IV, 33, 240)

When in 1831 the cholera appeared and killed many people he consoled a friend: „Here no one can counsil the other; each one has to decide on his own. We all live in Islam, whatever form we choose to encourage ourselves.“ (Letter to Adele Schopenhauer, 19.9.1831, WA IV, 49, 87)

In December 1820 Goethe wrote thanks for the gift of a book of aphorisms of his friend Willemer and says: „It fits … with every religious-reasonable view and is an Islam to which we all have to confess sooner or later.“ (WA IV, 34, 50)

As a participant in the war of 1792 against France Goethe said that this belief in the decree of God has its purest expression in Islam: „The religion of Mohammed gives the best proof of this.“ (WA I, 33, 123)

According to Eckermann’s conversations with Goethe (11.4.1827) the latter said to the first speaking about the education of the muslims by constantly seeing opposites in existence, therefore meeting doubt, close examination of a matter and thus finally arriving at certainty: „That philosophical system of the mohammedan people is an excellent measure which one can apply spirit because it indicates for man the unity within his own self.“ (Noten und Abhandlungen zum West-stlichen Divan, chapter Mahmud von Gasna, WA I, 7, 42)

Goethe tells about the difference between a prophet and a poet and the confirmation of Muhammad – may Allah bless him and give him peace! – as a prophet: „He is a prophet and not a poet and therefore his Koran is to be seen as a divine law and not as a book of a human being, made for education or entertainment.“ (Noten und Abhandlungen zum West-stlichen Divan, WA I, 7, 32)

Sufism / Practice of Dhikr

Goethe is fascinated by Saadi’s metaphor of the „fly in love“ flying into the light where it dies as the image for the Sufi. See here especially the poem of the „Divan“ about the butterfly flying into the light „Blissful yearning / Selige Sehnsucht“ whose earlier titles were „Sacrifice of the self / Selbstopfer“ and „Perfection / Vollendung“. In the chapter about Rumi, Goethe acknowledges the invocation of Allah and the blessing of it: „Already the so-called mahometan rosary [prayer-beeds] by which the name Allah is glorified with ninety-nine qualities is such a praise litany. Affirming and negating qualities indicate the inconceivable Being [Wesen]; the worshipper is amazed, submits and calms down.“ (WA I, 7, 59)

Goethe and Christianity

Goethe said that there is „much nonsense in the doctrines of the [christian] church.“ (Conversations with Eckermann, 11.3.1832) In his „Divan“ Goethe stresses the value of the precious present moment rather than having the Christian attitude of only waiting for the next life and therefore, disgracing what God gives man in every moment of his life.

Goethe refuses the christian view of Jesus and confirms the unity of Allah in a poem of his „Divan“:
„Jesus felt pure and calmly thought
Only the One God;
Who made himself to be a god
Offends his holy will.
And thus the right(ness) has to shine
What Mahomet also achieved;
Only by the term of the One
He mastered the whole world“

„Jesus f|hlte rein und dachte
Nur den Einen Gott im Stillen;
Wer ihn selbst zum Gotte machte
Krdnkte seinen heil’gen Willen.
Und so mu_ das Rechte scheinen
Was auch Mahomet gelungen;
Nur durch den Begriff des Einen
Hat er alle Welt bezwungen.“
(WA I, 6, 288 ff)

Besides Jesus and Muhammad – may Allah bless him and give him peace! – in the following verses Goethe also names Abraham, Moses and David as the representatives of the Oneness of God. It is a known fact that Goethe felt a strong dislike for the symbol of the cross. He wrote:

„And now you come with a sign …
which among all others I mostly dislike.
All this modern nonsense
You are going to bring me to Schiras!
Should I, in all its stiffness,
Sing of two crossed wooden pieces?“

„Und nun kommst du, hast ein Zeichen
Dran gehdngt, das unter allen …
Mir am schlechtesten will gefallen
Diese ganze moderne Narrheit
Magst du mir nach Schiras bringen!
Soll ich wohl, in seiner Starrheit,
Hvlzchen quer auf Hvlzchen singen?…“
Und sogar noch stdrker:
„Mir willst du zum Gotte machen
Solch ein Jammerbild am Holze!“

Also in Wilhelm Meisters Wanderjahre Goethe quite frankly wrote that it is a „cursed insolence … to play with secrets that are hidden in the divine depth of suffering“ One should rather „cover it with a veil“.

Finally, in the poem of the Seven Sleepers of his „Divan“ Goethe calls Jesus a prophet: „Ephesus for many years/ Honours the teaching of the Prophet Jesus. (Peace be upon the good one!)“ (WA I, 6, 269)

Conclusion

After examining the material evidence above and recognising its corroborative proofs in the writing of his close friends, Thomas Carlyle and Schiller it is possible to come to a clear conclusion without ambiguity or doubt.

Everything contained in his scientific writings, especially „Zur Morphologie“ stands as a lifetime’s propagation of the view that the universe is the creation of a Divine Being and that the Creator has no connected aspect to His creation.

While he lived his life in a non-Muslim country, he wholeheartedly adopted and declared commitment to the double Shahada and confirmed that there can be no god but Allah, the One, and that His messenger, and seal of the messengers was Muhammad, may Allah bless him and give him peace.

Uninstructed in Salat, Zakat, Sawm and Hajj, he nevertheless proudly and with deep emotion took the rare opportunity to attend the Juma’a. In all this it is clear that he saw Islam as his own Deen.

From the several renowned and confirmed Hadith in Muslim, Bukhari and the Sunnan collections it is known that confirmation of Allah and His messenger was itself the indisputable door of Islam, and the key to Jannah.

Thus it can be clearly accepted that Europe’s greatest poet, and the glory of the German language and intellectual life is also the first of the Muslims in modern Europe, re-awakening in the hearts of people desire for knowledge of God and His messenger, a knowledge that had lain dormant since darkness had descended on Islamic Spain.

In the light of his dazzling confirmation of the prophet, may Allah bless him and give him peace, he should be known among the muslims as Muhammad Johann Wolfgang Goethe.

Shaykh ‘Abdalqadir Al-Murabit
Authorized by the Amir of the Muslim Community in Weimar,
Hajj Abu Bakr Rieger
Weimar, 19th December 1995

taken from here

30
Jul
09

Humor dan Canda Rasulullah SAW

Beberapa riwayat humor dan canda Rasulullah saw. berikut semoga dapat menjadi inspirasi humor yang sehat, cerdas, positif dan menyegarkan.

Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”. Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?” Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)

Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)

Seorang sahabat bernama Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah mencintainya, begitu juga Zahir. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah, “Zahir ini adalah lelaki padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya”. Suatu hari ketika Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang dengan erat. Zahir: “Heii……siapa ini?? lepaskan aku!!!”, Zahir memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya Rasulullah. Zahir-pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata: “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini??” Zahir: “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai di pandangan mereka” Rasulullah: “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir. Mau dibeli Allah atau dibeli manusia?” Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukan Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad dari Anas ra)

Suatu ketika, Rasulullah saw dan para sahabat ra sedang ifthor. Hidangan pembuka puasa dengan kurma dan air putih. Dalam suasana hangat itu, Ali bin Abi Tholib ra timbul isengnya. Ali ra mengumpulkan kulit kurma-nya dan diletakkan di tempat kulit kurma Rasulullah saw. Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan kalau Rasulullah saw sepertinya sangat lapar dengan adanya kulit kurma yang lebih banyak. Rasulullah saw yang sudah mengetahui keisengan Ali ra segera “membalas” Ali ra dengan mengatakan kalau yang lebih lapar sebenarnya siapa? (antara Rasulullah saw dan Ali ra). Sedangkan tumpukan kurma milik Ali ra sendiri tak bersisa. (HR. Bukhori, dhoif)

Aisyah RA berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, saat itu tubuhku masih ramping. Beliau lalu berkata kepada para sahabat beliau, ”Silakan kalian berjalan duluan!” Para sahabat pun berjalan duluan semua, kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Aku pun menyambut ajakan beliau dan ternyata aku dapat mendahului beliau dalam berlari. Beberapa waktu setelah kejadian itu dalam sebuah riwayat disebutkan:”Beliau lama tidak mengajakku bepergian sampai tubuhku gemuk dan aku lupa akan kejadian itu.”-suatu ketika aku bepergian lagi bersama beliau. Beliau pun berkata kepada para sahabatnya. “Silakan kalian berjalan duluan.” Para sahabat pun kemudian berjalan lebih dulu. kemudian beliau berkata kepadaku, “Marilah kita berlomba.” Saat itu aku sudah lupa terhadap kemenanganku pada waktu yang lalu dan kini badanku sudah gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku dapat mendahului engkau, wahai Rasulullah, sedangkan keadaanku seperti ini?” Beliau berkata, “Marilah kita mulai.” Aku pun melayani ajakan berlomba dan ternyata beliau mendahului aku. Beliau tertawa seraya berkata, ” Ini untuk menebus kekalahanku dalam lomba yang dulu.” (HR Ahmad dan Abi Dawud)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda kepada ‘Asiyah, “Aku tahu saat kamu senang kepadaku dan saat kamu marah kepadaku.” Aisyah bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?” Beliau menjawab, ” Kalau engkau sedang senang kepadaku, engkau akan mengatakan dalam sumpahmu “Tidak demi Tuhan Muhammad” Akan tetapi jika engkau sedang marah, engkau akan bersumpah, “Tidak demi Tuhan Ibrahim!”. Aisyah pun menjawab, “Benar, tapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja” (HR Bukhari dan Muslim)
Wallahu’alam Bisshawab. Wabillahit Taufiq Wal Hidayah.

diambil dari sini




 

December 2009
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Quote

"I am a traveler seeking the truth, a human searching for the meaning of humanity and a citizen seeking dignity, freedom, stability and welfare under the shade of Islam. I am a free man who is aware of the purpose of his existence and who proclaims: “Truly, my prayer and my sacrifice, my living and my dying are all for Allah, the Lord of the worlds; no partner has He. This, am I commanded and I am of those who submit to His Will.” This is who I am. Who are you?" (Hassan al-Banna)

Online

tracker

Your IP Address

Kalender Hijriyah

Blog Stats

  • 20,620 hits

Qur’an Flash

Powered by